it’s twen-ty fi-ve

Saya berjalan-jalan di pertokoan dan masuk disatu toko baju, belum ada niat belanja entah lihat-lihat saja dulu kalau ada yang cocok barang dan harga saya akan memikirkan serius soal pembelian.

Sedang asik memilih-milih dan memutuskan bertanya harga abaya, seorang ibu menghampiri saya tampaknya dia mengajukan pertanyaan, karena dalam bhs arab saya bilang “im sorry i dont speak arabic” ibunya tersenyum.

Si ibu masih berdiri di depan saya “how much” ahh sukurlah, lega saya dengan pertanyaan si ibu “its twenty five  riyal” si ibu menggeleng, saya kira kami sepakat harga ini cukup mahal, saya tersenyum. Tapi sekali lagi ibu bertanya “how much?” Saya jadi curiga si ibu tidak paham yg saya ucapkan, jadi saya mengulang kali ini  dengan gerakan tangan “twen-ty fi-ve” saya mengacungkan jari 2 & 5. Si ibu tersenyu dan menggeleng.

Si ibu masih berdiri didepan saya beliau turut memegang bahan abaya, kemudian dia menatap saya dan menggenggam lengan saya “vietnamese?”, dimana-mana saya rasanya lebih sering dikira Vietnam Thailand Filipino bahkan ketika sudah berkerudungpun.

Mungkin mata kecil saya ini, iya saya kira mata kecil saya seperti teman saya dulu kerap menggoda “hey you with your small eyes”, tapi ini di tanah Haraam ketika lebih banyak orang mengenali wajah Indonesia dan Malaysia, tapi justru ibu ini mengenali saya sebagai vietnamese.

Si ibu masih menatap saya sambil tersenyum tangannya belum melepaskan lengan saya, saya masih mengingat beliau, tubuh kecil, berbaju abaya hitam kerudung putih dengan scarf melingkari lehernya penanda travel agent dan bendera negara,  berkacamata, kulitnya yang putih dengan hidung yang tinggi (mancung) sangat khas, dan wajah cantiknya. Saya bertanya darimana beliau berasal “al giers, Al-Jazair” katanya, saya menggumam dalam hati “O Allah saya juga pengen ke Al Jazair”.

Tidak tahu apa yang ada dipikiran beliau, sama seperti tatapan mata nenek Pakistan yang saya jumpai di masjid Nabawi. Si Ibu dari Al-Jazair, dengan senyum dan tatap mata dan kali ini beliau menggenggam tangan kanan saya, cukup lama seperti sedang mengamati saya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya, kalau saja saya bisa sedikit Arab ataupun Perancis saya pengen nanya “ibu apakah saya cocok jadi menantu panjenengan?  Hingga panjenengan tak berhenti menatap dan  tangan panjenengan tak juga lepas dari tangan saya?” Oopss 🙊🙈

Kemudian si ibu memberi salaam sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan saya, saya membalas “waalaikum salaam” doakan saya ya bu, inshaa allah saya doakan ibu juga, saya membatin.

Salaam

 

*Panjenengan, kromo inggil tingkatan bhs jawa tertinggi yang berarti anda, ditujukan untuk orang(yanglebih)tua dan atau yang dihormati

 

 

 

Indonesia…Indonesia!!

Jadi saya sepakat meski ga tahu besaran prosentasenya bahwa, Indonesia menyumbang jamaah terbesar haji & umroh di Negara kerajaan Saudi Arabia. Apalagi negeri ini menjadi tujuan bekerja bagi para pahlawan devisa Indonesia. Melihat interaksi penjual lokal yang menggunakan bhs Indonesia dengan pembeli  Indonesia jamak tau bahwa populerlah orang Indonesia ini.

Atau, pernah ketika mampir di satu toko penjual bertanya dari Indonesia bagian mana kami ini? Belum sempat dijawab mereka sudah menyebut “Bandung!” sambil senyum-senyum, kamipun menggoda dengan kata “Bogor! Pernah ke bogor?” justru kami kembali bertanya, penjaga toko (yang mungkin sekaligus pemilik) senyum-senyum, hehe Bogor sangat populer memang bagi turis dari Arab, jadi tak perlu berpanjang-panjang disini 😀.

Atau juga pertemuan saya dg seorang ibu pakistan yang langsung menembak asal negara saya, ceritanya bisa dibaca  disini

Sekali pernah ketika saya berjalan menuju penginapan sepulang dari masjid, segerombolan bocah laki-laki usia sekolah dasar berjalan didepan saya sambil menunjuk girang “indonesia.. Indonesia…indonesia” seolah ingin berkata Indonesia lagi Indonesia.

Belum lagi ketika saya berjalan-jalan di pasar, seorang bocah yang mendorong kursi roda dengan anak kecil laki-laki yang lebih muda duduk diatasnya menghentikan saya tiba-tiba “Indonesia? Malaysia?” menodong saya dengan pertanyaan pilihan, saya bilang Indonesia, anak itu kemudian berlari menjauh sambil mendorong kursi roda sembari berteriak “In-donesia..In-donesia..In-donesia” hingga saya tak melihat dan hanya mendengar teriakannya yang semakin jauh.

Lucu saja sekaligus senang melihat polah orang dewasa hingga bocah-bocah ini.

Salaam 🇲🇨

 

 

Asna & Mohammed

Melihat ada celah sedikit dibarisan shaff belakang saya bergegas sebelum ditempati orang lain, menjelang azdan begini sulit mendaptkan shaff dan saya nyaris terlambat tiba di masjid. Usai menunaikan 2 rakaat tahiyatal masjid, maunya saya pake kacamata kuda saja maksudnya tidak memperdulikan siapapun disamping kanan kiri saya, tapi saya selalu merasa ada yang memperhatikan saya.

Saya menoleh ke samping kanan saya. 2 pasang mata bulat memperhatikan saya sambil menyunggingkan senyum, bocah laki-laki dan perempuan, saya taksir usia mereka tidak terpaut jauh masing-masing 5& 4 th saya gemas melihat mereka . “assalamualaikum” sapa saya, gadis kecil mengangguk dan menguggumam.

Saya merogoh saku tas, syukurlah ada sekotak kecil permen mint strawberry yang sering saya bawa setiap kali bepergian mengusir sekedar lelah yang bikin saya kerap kali menguap.

Mereka masih menatap saya dengan senyum lebar di bibir, saya menyodorkan kotak permen dan diterimanya dengan senang .Bibir mereka terus menerus tersenyum, si gadis kecil membuka kotak permen itu dan membaginya ke bocah laki-laki.

Saya kembali menyibukkan diri dengan berdiam, tapi 2 pasang mata masih saja memperhatikan saya. Tak tahan akhirnya saya menyebut nama saya ” iam..” saya meletakkan tangan saya di dada saya harap mereka mengerti meski ragu tanpa bermaksud meremehkan sebenarnya saya  ragu mereka paham bhs inggris, tampaknya mereka terlihat dari negerinya alm. Benazir Bhutto, gadis kecil itu membalas “iam Asna and this is my brother Mohammed”,iam mohammed” timpal bocah laki-laki yang saya kira lebih muda.

Maafkan saya karena keterkejutan saya dan sebenarnya saya senang mereka bisa bercakap bhs inggris “wow you speak english?” Asna mengangguk penuh semangat dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka “my teachers in school speak english so i speak english too” Mohammed menimpal hal yang sama “no you dont go to school Mohammed ” seru Asna, “Mohammed doesnt speak English he speaks Urdu” tambahnya setengah berbisik ke saya, saya tersenyum “you’ll go to school when you grow up just like Asna, you’re a smart boy” kata saya, Mohammed tampak tersipu.

Konsentrasi dan tujuan saya ke masjid teralihkan kehadiran mereka, saya tau seharusnya saya tidak banyak bicara di masjid ini, tapi dua bocah ini benar-benar mengalihkan perhatian saya, saya punya 2 pilihan mengabaikan mereka atau meladeni ocehan dan cerita mereka?, esok sayapun tak tahu apakah akan bertemu mereka lagi diantara milliaran manusia disini. Jadi, saya putuskan mendengarkan segala tanya cerita dan celoteh mereka, kami bicara pelan-pelan agar tidak mengganggu jamah lainnya.

Azdan sudah berkumandang, kami berdiri shaff kami cukup sempit Asna menguasai tempat saya sehingga beberapa kali saya tidak bisa bersujud hanya duduk dan membungkukkan badan pengganti sujud. Saya sama sekali tidak keberatan justru seusia mereka Musti diajarkan beribadah, meskipun Asna sedang tdk mengenakan penutup kepala hanya berkaos lengan pendek celana panjang denim, Asna dan Mohammamed mengikuti gerakan sholat.

Asna dan Mohammed tampak senang dengan pemberian permen dari saya, saya sapa ibu mereka yang duduk disamping asna saya sampaikan bahwa saya memberi permen dan sudah sampaikan kepada mereka bahwa cukup untuk hari ini permennya besok dimakan lagi, ibunya mengangguk kemudian melanjutkan membaca Al-Qur’an, hal yang seharusnya saya lakukan juga. Agak iri juga sebenarnya, saya ingin melakukan hal yang sama seperti yg ibu mereka lakukan, tapi tampaknya 2 bocah ini ingin ada orang dewasa yang mengajak mereka mengobrol.

Asna mulai berceloteh ” we have a little brother name bunny“, saya mengerutkan dahi , dengan mata lebar dan senyum manisnya dia mengngguk -angguk “yess, bunny just like rabbit”  seolah membaca keheranan saya “he must be cute” kata saya, mereka berdua mengangguk cepat. Asna lebih banyak mendominasi percakapan dia bercerita tentang bunny si adik kecil tentang ayah mereka yang tinggi “but im small” kata Mohammed terduduk lesu, “its ok because you’re still a little, when you grow up you ganna be tall like your daddy even taller” saya mengusap kepalanya. Mohammed, seperti biasa dia tersipu, kemudian mengeluarkan uang satu rupee dan memamerkan kepada saya dengan diletakkan di dahinya “look!  i have one rupee”, saya pura-pura terkejut “wow thats alot” Mohammed tersenyum, ibunya manis, anak-anaknya cantik dan tampan bapaknyakayaknyagantengjugaini

“auntie! why you look sad?” tanya Asna tiba-tiba, saya menghentikan zikir “no, im not sad. im happy to be here, im happy to meet you and Mohammed”, mereka tersenyum saya tidak tahu kenapa Asna melihat saya tampak sedih? Mungkin wajahnya saya tampak kelelahan saja “where are you from auntie?” tanya asna menyelidik sambil memegang lengan saya, Indonesia jawab saya ” is it far?”, saya mengangguk “yes its quiet far from here. listen! when you guys grow up youll go to Indonesia and see how Indonesia is as beautiful as Pakistan” kata saya berpromosi, Asna tersenyum mengangguk diikuti Moahmmad yang tampak lebih sering mengikuti apapun yang dilakukan Asna. Saya mengusap kepala mereka dan mendoakan segala kebaikan untuk mereka, Asna dan Mohammed tampak senang sekali dipuji dan diusap kepalanya, mereka tak tampak takut ataupun keberatan.

“where is wash room auntie?” tiba-tiba Mohammed mengajukan pertanyaan, saya khawatir dia ingin pipis jadi saya mengulang tanya “bathroom?” “no..washroom” tanya Mohammed. Toilet jauh dari tempat ini, saya tidak bisa mengantarkan anak orang ke tempat umum. Asna masih berceloteh dengan saya ketika Mohammed menuju ibunya, kemudian mereka bertiga berbicara dalam Urdu “its Ok mommy you can go to washroom with Mohammed, i stay” ucap Asna Menoleh sekilas kemudian menatap saya.

Saya tidak tau apa yang mereka perbincangkan, tiba-tiba ibunya merapi-rapikan sajadah, berdiri dan menggamit tangan kedua anaknya, sebelum pergi Asna menatap saya dia tak tampak ceria tak ada senyum diwajahnya, mereka tak sempat berpamitan pada saya tapi ahh siapa saya? hanya orang asing, random people yang mereka temui.  Saya tersenyum melambaikan tangan, mengecup tangan saya dan melemparkan kecupan tangan ke udra untuk Asna , dia hanya mentapa saya kemudian mereka tak terlihat lagi.

Asna dan Mohammed bisa jadi sekian dari random people yang ditakdirkan untuk saya temui,  tapi obrolan singkat kami benar-benar berkesan buat saya, saya bahkan masih ingat wajah mereka dengan mata bulat dan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka. Mereka tak takut pada orang asing seperti saya, seolah kami sudah saling mengenal dan pernah bertemu sebelumnya. betapa positifnya pikiran mereka. Saya senang setiap kali mereka memanggil saya “auntie”. Entah apakah mereka akan mengingat pertemuan kami, kelak ketika mereka dewasa, sungguh saya berdoa segala kebaikan untuk Asna & Mohammed.

Salaam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kosmetik untuk menyenangkan diri sendiri

Ditempat kerja yang lama saya sering disaranin boss buat dandan, minimal bedak & lipstick. Tapi saya paling males berdandan. Apalagi setelah makan siang dan cuci muka Ya udah kerja lagi aja, ga ada acara berbedak atau ber lipstick.

Ok, Saya memang dandan tiap berangkat keja, dandan saya minimal pake bedak dan lipstick tipis-tipis aja. Dulu justru rasanya ga pede kalau harus pake lipstick, jadi lipstick saya bisa awet bertahun-tahun.

Beda dengan sekarang-sekarang ini. Partner kerja saya ini bisa kelihatan segar sepanjang hari, warna bibirnya bisa berganti-ganti karena koleksi lipsticknya banyak.

Saya kira saya ga mau kelihatan lesu apalagi duduk disamping dia, jadi saya mulai pake lipstick aja dulu, usai makan siang termasuk cuci muka minimal saya pakai lipstick aja meski tanpa bedak, karena lebih cepat berlipstick dibanding ber-bedak, itu menurut saya ya.

Rasanya, partner kerja saya ini ngasih pengaruh positif ke saya. lha semakin kesini semakin suka milih-milih kosmetik. Saya paling suka nanya-nanya merk lipstick atau warna apa yang bagus, bedak , segala eye dari eyeliner eyepencil  eyeshadow macam-macamlah bahkan istilah-istilah atau kosakata per kosmetikan. Koleksi kosmetik saya jadi cukup banyak dibanding dahulu.

Apalagi tempat kerja saya dekat sekali dengan mall yang ibaratnya hanya guling-guling 2X nyampe lepas makan siang kami akan ke gerai-gerai kosmetik. Meski hanya sekedar melihat-lihat, oles-olesin lipstick di punggung tangan warna apa yang cocok dan bakal dibeli pas gajian bulan depan 😉.

Jadi, jalan-jalan ke gerai kosmetik ini bikin kepala sedikit segar sih untuk lanjutin kerja lagi. kadang juga ga nunggu bulan depan apalagi kalau ada diskon tiba-tiba balik kantor bawa tentengan segala eyeliner eyepencil atau lagi-lagi lipstick 😊

Saya kira saya berdandan ini bukan sekedar to attract the opposite sex, tapi buat saya to please my self seneng aja kelihatan  beda. My ✌🏽️ Cents.

Salaam.

 

 

 

 

 

 

Eyes to see

Sebagai pengguna kacamata, setiap bepergian saya membawa kacamata dan kontak lensa dan kacamata. Taulah ya fungsinya, jika yang satu entah dimana masih bisa menggunakan  cadangan yang lainnya.

Tapi urusan alat bantu melihat ini saya punya pengalaman yang buat saya menyedihkan. Mata saya mudah sekali “banjir”, waktu itu saya dan kawan baik menuju bandara schippol. Baru beberapa menit  diatas pesawat dari Oslo, dan tiba-tiba satu mata bisa melihat jelas satu mata lainnya buram, sepertinya saya ga sadar kontak lensa saya jatuh. Saya turun dari pesawat dg satu konyak lensa di mata tak apalah.

Tidak berhenti disitu, dari Belanda kami menuju Paris long story short karena kehilangan kontak lensa saya memakai kacamata yang ndilalh koq juga hilang. Saya memaksimalkan penglihatan yang terbatas.

Urusan kacamata saat bepergian sepertinya saya benar-benar harus hati-hati. Tepat hari saat keberangkatan saya ke   Saudi Saya kehilangan kacamata, sepertinya terjatuh tanpa saya sadari.

Saya sedikit panik, saya menghubungi ibu saya sambil pamit saya ceritakan bahwa saya kehilangan kacamata tentu saja ibu saya lebih panik, bagaimana saya akan bisa melihat jelas?

Saya tidak membawa softlens ataupun kacamata cadangan kecuali sunglasses dengan minus yang ukurannya lebih kecil dibanding yang saya pakai.

Akhirnya cuma bisa pasrah, what will be will be Bismillah saya inshaa allah tidak ada apa-apa.  Pernah ketika di pasar, seorang ibu pedagang ketika melihat saya yang memperhatikan dagangannya dengan jarak terlalu dekat memperhatikan saya, saya bilang sedikit dg bhs isyarat krn saya tidak bisa bahasa arab “can not see” sambil menutup mata dengan tangan, si ibu menyarankan saya meneteskan zam-zam kemata saya, and i did meskipun saya tidak tahu apakah akan berhasil menurunkan minus saya atau tidak but i did.

Ah.. benar saja, saya bertemu orang-orang yang membantu saya, membantu saya menunjukkan apa saja menemani saya berjalan ke dan dari masjid atau kemanapun. Saya kira ini bagian dari rizki saya.

Kalau kata sepupu saya “dek! Kacamata aja jatuh mulu’ kapan jatuh hatinya?”                                     Eh 🙈🙊

Salaam

 

 

 

 

 

” Ami!!”

Rasanya memang Saya tahu sepasang mata sering memperhatikan saya, tapi saya abai, saya kira nanti sajalah saya sapa usai urusan saya “merayuNYA”. Ketika, saya kira saya sudah cukup urusan “rayu-meray”  saya menoleh kekiri, disamping saya duduk seorang nenek yang memperhatikan saya, saya memberi senyum belum sempat mengucap salam ketika si nenek menebak “Indonesia!” serunya, hebat juga ini nenek pikir saya, saya tidak menggunakan tanda pengenal yang menunjukkan kewarga negaraan saya, saya mengangguk. Saya bilang “Pakistan!” si nenek tersenyum mengangguk, tentu saja terlihat sangat Pakistan bukan saja dari fisiknya namun juga penampilannya mengenakan shalwar kameez. “islamabad?” tebak saya, padahal maksud saya ingin bertanya Pakistan mana? karena tak bisa urdu asal nanya aja, saya toh taunya Islamabad rawalpindi lahore dan hyderabad kota0kota yang saya dengar ketika membaca/ menonton siaran berita, si nenek menggeleng dan menyebut nama yang saya tak jelas mendengarnya, mungkin nama daerah atau kota,saya hanya ber “ohh” sok tau.

Nenek yang mengenakan bshalwar kameez itu memperhatikan saya, “ami!” katanya, saya menggeleng, “ami!” katanya lagi, saya bingung harus berkata apa? saya tak paham maksudnya, urdu saya tak bisa, arab juga tak bisa, “aa-mi!” tegasnya, sambil dia meletakkan tangannya di dada saya (dada- chest), saya menebak mungkin maksudnya “nama!” siapa namamu?!, mungkin begitu, jadi saya sebut nama saya, dia mengangguk dan tersenyum sambil masih mengamati saya yang entah apa di dalam pikirannya, mungkin beliau berpikir “ahh akhirnya ketemu putri Indonesia”.

Rupanya nenek tidak sendiri, disampingnya ada seorang nenek lagi yang juga mengenakan  shalwar khameez  sedang duduk selonjor memijit-mijit kakinya, saya serahakan obat cair penghangat yang saya bawa dari rumah. Saya ajari cara membuka, dan dimana harus mengoleskan obat cair itu. Dengan gerakan tangan saya menunjuk mata mulut dan daerah hidung bagian dalam “NO!”, maksudnya daerah-daerah yang saya sebut tidak boleh di oles. Kening pelipis perut dada dan mungkin kaki boleh, naasnya si nenek sebelah saya sempat mengoleskannya di bawah mata buru-buru tangannya saya tarik dan bilang “NO” dan mengulang penjelasan saya, entah beliau mengerti atau tidak.

Kemudian, diserahkannya obat cair itu ketemannya yang tadi memiit-mijit kakinya, si nenek lain mengoleskan ke dada dan kakinya. kemudian mereka menghirup aroma obat cair penghangat, mereka tersenyum. obatpenghangat ****C*** ini memang favorit saya karena aromanya juga segar.

Saya yakin, setiap orang yang kita jumpai sudah ditakdirkan Allahswt untuk kita temui, untuk diambil pelajarannya. Pertemuan saya dengan nenek Pakistan mungkin untuk memberikan pelajaran untuk saya, atau sekedar mengingatkan “hey kamu bawa obat, sudah janji kamu akan bagi dengan orang lain yang membutuhkan”, i dont know, hanya Allahswt yang tahu.

Salaam

 

“Yemen!”

“Do you believe in coincidence?”

Ini takjub saya yang lainnya. Sebenarnya, saya hanya menghubung-hubungkan ataukah ini takdir yang hikmahnya adalah saya diminta untuk berpikir karenaselamainiseringnggakmikir ? saya tidak tahu.

Sebelum berangkat, feed berita Instagram saya berkali-kali memposting pemberitaan tentang Yaman, yang beneran ini bikin saya sedih sekali. Konflik di Yaman ini belum juga reda, ga taulah kapan ini akan selesai, kelaparan dan ancaman malnutrisi bagaiman generasi Yaman selanjutnya jika saat ini mereka terancam dengan masalah kesehatan karena konflik yang tak juga mereda?, atau trauma konflik yang diderita?. Perihal konflik Yaman banyak tersebar di google silahkan pilih sendiri mau baca yang mana. Jika dilihat di peta, secara geografis Yaman memang berbatasan langsung dengan Saudi Arabia juga Oman.

Saya sedang berjalan-jalan di malam hari sepulang Isha, melihat keramaian pasar dekat masjid ketika saya mampir  ke sebuah lapak baju-baju abaya yang dijaga seorang pemuda saya taksir usianya bahkan belum 16 tahun, rambut keriting dengn wajah khas arab, tubuhnya yang cukup tinggi meski tampak kecil tapi inshaa allah sehat.

Gerangan apa yang mebuatnya disini? seharusnya di jam ini dia belajar, apakah dia bersekolah? atau mungkin dia sekolahnya pagi, sehingga sore hingga malam dia bekerja? pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi otak saya.

“Indonesia!” tebaknya riang, saya membalas senyumnya dan mengangguk “iya Indonesia”. “I love Indonesia” serunya sambilmengecup tangannya dan melemparkannya ke udara. saya agak geli dengan tingkahnya, saya pikir bisa aja ini bocah menarik pembeli, atau mungkin memang dia benar menyukai Indonesia karena konon jamaah Indonesia terkenal Royal suka belanja. pun begitu rasanya saya ikut bangga. “im from Hadramawt” kening saya berkerut “yemen”, “Yaman!” ulangnya sambil menepuk dada bangga.

Saya yang sebelumnya membayangkan segala kejadian di yaman, kemudian bertemu pemuda Yaman, what a coincidence. Sayangnya kami tidak banyak bercakap karena kendala bahasa, dia bisa mengucapkan angka-angka dalama bahasa Indonesia atau kata-kata umum bahasa Indonesia untuk bertransaksi.

Sungguh saya berharap konflik di timur tengah segera usai.

 

Salaam.

catatan: peta diambil dari ezilon.com

 

 

Assalamualaikum

Peace be upon you – Semoga kesejahteraan dan rahmat Allahswt atas kamu

“Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”

Jadi salam yang digunakan umat Islam ini adalah do’a, sama halnya ketika menjawab salam adalah mendoakan kembali. Mungkin sama halnya dengan “salam” dari pemilik kepercayaan lainnya yang juga merupakan ungkapan do’a.

Jujur, dulu kadang saya rasanya enggan untuk mengucapkan salam “assalamualaikum” bahkan ke sesama Islam, kecuali ketika kami berkunjung kerumah mengetuk pintu sambil mengucap salam agar pemilik rumah membuka pintu. Dulu, saya lebih nyaman bersapa “hey!” “halo” atau tanpa ber-salam sama sekali ketika bertemu langsung atau berpapasan dijalan dengan teman atau kerabat. kenapa enggan? entahlah, mungkin “hey” dan “halo” lebih pendek mengucapkannya, mungkin terkesan informal jadi lebih santai saja.

Hal pertama yang membuat saya takjub ketika tiba di bandara jeddah, dan selanjutnya membuat kebiasaan saya berubah adalah, beginiceritanya

Kami tiba dibandara King Abdul Aziz- Jeddah airport tengah malam untuk selanjutnya kami akan melanjutkan perjalanan menuju kota Madinah. Saya sedang menunggu seorang ibu yang duduknya ketika di dalam pesawat adalah di sebrang lorong kursi saya, si Ibu masih antri keluar dari pintu bandara sementara saya berdiri agak menjauh dari pintu keluar.  Seorang perempuan muda yang berjalan bersama (saya kira orangtuanya) seorang bapak dan ibu berumur, si Ibu duduk dikursi rodanya yang didorong oleh bapak ” assalamualaikum sister” sapanya memberi salam sambil berlalu.

“Assalamualaikum sister!” ini adalah moment takjub pertama saya ketika tiba di tanah kerajaan saudi Arabia. Berturut-turut dimana saja di lift penginapan, dijalanan, dimanapun berpapasan dengan siapapun saya menerima salam “Assalamualaikum”, semua saling bertukar dan menjawab salam, artinya semua saling mendoakan. Saya takjub, iya saya memang senorak itu. Tapi dari situ saya mulai berubah, saya harap saya tidak lupa untuk mengucapkan salam dengan senyum dan semangat tulus mendoakan kesejahteraan dan rahmat allah untuk mereka yang saya jumpai.

Nanti saya lanjutkan lagi pengalaman saya tentang ber salam.

Assalamualaikum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Pulang ke rumah”

Untuk sebagian muslim Indonesia atau juga sebagian muslim seluruh dunia kota Madinah & Makkah atau tanah haraam (selanjutnya saya sebut tanah haraam, sacred place and land) adalah rumah. Meskipun pemegang passport cokelat (khusus haji) atau hijau yang juga digunakan untuk umroh di tanah haraam yang terletak di Saudi Arabia bukanlah luar negeri, meskipun tidak terlahir di kota ini dan baru pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini tanah haramaa tidaklah terlalu asing.

Saya rasa tidak asing, karena sebagai muslim kami punya ikatan emosional dengan negeri ini khususnya Madinah dan Makkah, tempat bagi kebanyakan muslim ingin berkunjung dan menjalankan ibadah seperti yang diperintahkan, “bagi yang mampu”.

Seperti saya sempat menggoda mbahputri (=nenek) sepulang berhaji diusianya yang sudah senja “eciyee mbah dah pernah keluarnegeri”, mbah menggeleng menurutnya dia belum pernah keluarnegeri “itu cuma Saudi ” katanya.

Banyak cerita pengalaman setiap orang yang berbeda-beda, yang membuat sebagian orang was-was tapi sebagian lainnya berangkat saja mengorbankan apapun yang mereka punya demi bisa “pulang kerumah”. Pulang kerumah bertemu handai taulan dari seluruh penjuru dunia, entah apapun nanti yang akan terjadi di tanah haraam semua melepas rindu pada yang MAHA KUASA Allahswt, menmbawa segenap syukur dan mengharap segala kebaikan.

.

Salaam

 

 

Utak-atik

Masih bingung dengan rumah baru, ibaratnya nyusunin ruang-ruang untuk naruh barang apa mau diletakkan dimana, sudah bikin ruangannya tapi mo balik ke ruangan yang dibikin buat naruh barang-barang sesuai tempatnya…. kayaknya saya tersesat dan sampai sekarang masih ga tau bagaimana balik keruangan itu.

semoga bisa ngerti maksud saya.

Intinya, blog saya masih berantakan susunannya. Padahal rasanya ga sabar pengen cerita-cerita.

Continue reading