Buku Diskon

Di akhir tahun 2019, sebelum Covid-19 menghantam dunia, saya ga sengaja mampir ke sebuah toko buku import dekat kantor. Saya kerap kali toko itu, meski ga beli tapi sekedar melihat-lihat. Surprise nya ketika ternyata sedang ada “diskon akhir tahun” judulnya seperti itu, berlangsung selama sebulan, sedangkan saya datang beberapa hari menjelang akhir tahun.

Paling senang memang barang diskonan ya, saya mendapat beberapa buku yang lumayan bagus fiksi dan non fiksi juga buku anak2 hardcover. Se Senang sekali rasanya. Sayangnya tahun 2020 lalu, buku2 yg mereka diskon tidak masuk kategori bacaan saya, jadi tidak ada acara beli buku di toko tsb meskipun judulnya sama “diskon akhir tahun”.

Akhir minggu 2020 saya mampir satu toko buku besar di sebuah Mall. Saya mendapati buku yang pernah saya beli secara diskon di toko buku import dekat kantor itu, percis sama, tapi harganya tak se-ekonomis yang saya beli.

Kalau sudah begini, senang rasanya, ternyata saya beruntung beli buku itu tahun lalu.

Menyapa kucing

Setiap pagi saat berangkat kerja, saya kerap kali menjumpai sekelompok kucing jalanan di trotoar dekat perempatan penyebrangan. Ada yang duduk-duduk, ada yang mondar-mandir. Entah mereka menunggu sesuatu, atau mereka sedang melakukan rapat warga morning briefing ?. Setiap pagi lho. Lucu merhatiin polah mereka. Lama-lama, koq saya pengen ngasih makan mereka.

Saya bicara tentang polah kucing-kucing ini dengan seorang teman yang sayang banget dengan kucing dan punya peliharaan beberapa kucing kampung. Awalnya, kucing itu sering mampir kerumahnya kemudian jadi betah, jadinya mereka tinggal dirumah teman saya. Teman saya yang cat person ini ngopeni (bhs jawa = merawat, peduli) banget ngasih makan, ngasih tempat tinggal, mungkin mereka merasa secure aman tinggal di rumah teman saya. Setelah sarapan mereka ke luar rumah, baru kembali menjelang maghrib, macam kerja office hour aja mereka ini.

Satu hari saya bertanya tentang, jenis makanan kucing, merk dan kisaran harganya yang memungkinkan untuk saya bawa ke kucing-kucing yang sering saya jumpai dlm perjalanan berangkat kerja. Menurut teman saya, saya harus memikirkan benar2 rencana saya. Sekali saya memberi mereka makan, maka mereka akan selalu mengharapakn saya bawain makanan untuk mereka.

Saya harus punya komitmen besar untuk ini. Menurut teman saya lagi, kucing jalanan toh cukup bisa survive mereka kuat bertahan, mereka bisa mencari makan sendiri.

Kemarin, setiba saya dekat area kantor tempat saya kerja. Seekor kucing duduk ditengah jalan “assalamualaikum” sapa saya. Kepalanya mendongak melihat saya kemudian mengeong, tiba-tiba dia mengikuti saya sambil terus mengeong. Sepertinya kucing usia remaja.

Rasanya, mau saya cuekin saja, tapi dia berlari2 kecil mengikuti langkah saya sambil terus mengeong. Tak tega, saya kembali ke tempatnya. Tak ada sisa makanan. Saya tahu, ada 2 dermawan yang kerap memberi kucing makan setiap hari, diletakkan ditempat biasanya. Saya kerap melihat mereka ini tiap pagi saya berangkat kerja, kami menuju gedung yang sama. Hari itu, tak tampak ada sisa makanan.

Saya cuma ada pastel bekal sarapan. Ga yakin apakah kucing akan suka pastel isi rogut wortel dan kentang, pastel lho saudara-sadara.. tapi itu aja yang saya punya. Akhirnya saya bagi satu pastel untuknya, saya letakkan diatas kertas. Si kucing buru-buru makan dengan lahap. Wah, beneran lapar kucing ini tampaknya.

Besoknya, si kucing sudah nongkrong depan pintu gerbang jalur lalu lalang pejalan, ketika saya datang dia mendongakkan kepala sambil mengeong. Lagi2 saya hanya membawakan pastel. Dia sudah tak sabar meraih pastel dari tangan saya. Keesokan harinya lagi, saya tak melihat kucing itu nongkrong, dan hari-hari selanjutnya dia sudah cuek tampaknya dia sudah tak menunggu saya lagi atau mungkin dia sudah lupa dengan saya?.

Dia sudah tak perlukan alas kertas, semoga bapak kebersih tak marah kami bikin sedikit kotor

Salaam.

Pindahan

Foto oleh Karolina Grabowska dari Pexels

Saya salut dengan siapa saja yang melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Berpindah dari zona nyaman, memulai kehidupan baru bahkan yang benar-benar baru. Misalnya, ganti profesi pekerjaan. Terlebih di musim yang nampak tak menentu karena Corona begini.

Saya dan teman saya adalah perantau di Ibukota yg konon akan segera menjadi kota administrasi ini. Kepada saya, teman saya ini sudah lama membicarakan tentang wacananya untuk hijrah, mencari peluang kerja di kota lain, padahal pekerjaanya di kota Administrasi ini menurut saya sudah mapan. Dia sempat berpikir untuk pindah ke kota yang bahkan bukan kampung halamannya, memulai hidup baru.

Di awal pandemi, beberapa bulan setelah negara mengumumkan kasus pertama, kemudian angka korban atau pasien terinfeksi covid-19 semakin meningkat, dia memutuskan resigned dari pekerjaannya sebagai karyawan tetap di sebuah perusaan asing tersebut.

Dia memulai wirausaha, meneruskan hobby yang kemudian menjadi profesinya . Dia membicarakan lagi tentang rencana hijrah yang dulu sempat dia sampaikan kepada saya untuk meninggalkan kota Administrasi ini “aku percepat rencanaku, leaving for good sesegera mungkin” ujarnya pada saya waktu itu. Padahal saat itu rencana hijrah, bukan dalam kurun tahun 2020, namun di masa pandemi ini dia mempercepat keputusan kepindahannya.

Saya tidak banyak bertanya apa yang akan dia lakukan dikota tujuan, mungkin dia akan melanjutkan usaha yang sudah dia rintis di kota administrasi ini sejak dia resigned dari pekerjaannya (?). Teman saya dan suaminya adalah dua orang dewasa. Saya kira, pasti dia sudah melakukan banyak pertimbangan, pasti dia sudah banyak menyusun rencana, inshaa Allah dia gak gegabah mengambil keputusan.

Dalam hati, hebat juga kawan baik saya yang satu ini, berani membuat keputusan besar bahkan di masa pandemi, masa yang menurut banyak orang tak bisa memberikan banyak kepastian. Tapi, lakukan saja yang terbaik, sisanya serahkan padaNya, kepada Dia Sang Maha pemberi kehidupan.

Salaam

Pengalaman test covid-19 (part 2)

Agar tenang, keesokan harinya di hari senin saya memutuskan untuk melakukan test PCR di salah satu RS di kuningan. Biaya test variatif, tergantung berapa lama hasilnya bisa kita terima. Dokter memasukkan alat semacam cottonbudd ke hidung dan tenggorokan bagian dalam, rasanya? Ga sesakit yang saya bayangkan hanya setelahnya saya mengeluarkan airmata, dan karena tenggorokan setelahnya merasa pengen muntah. Saya ga bisa bayangin jika anak2 kecil, seperti balita, kasihan.

Selama masa tunggu, saya menjaga jarak dengan siapapun, dan lebih sering di dalam kamar. Pagi hari, saya jalan kecil dan jogging sebentar di luar rumah, mencari matahari. Meskipun musim hujan, di pagi hari cuaca kadang mendung, yang penting saya keluar rumah saja dulu atribut masker tak boleh lupa dipakai.

Meski saya meyakini saya tidak terinfeksi, tapi tetap saja ada pikiran bagaimana jika hasilnya positif?. Walhasil, selama masa tunggu itu saya mengumpulkan banyak informasi tentang bagaimana prosedur mendaftar isolasi di Wisma Atlit. Jika hasilnya positif, musti lapor ke RT/RW setempat, membawa surat pengantar ke Puskemas untuk dirujuk ke wisma atlit (jika tempat kita tdk memungkinkan untuk isolasi mandiri) kurang lebih itu yang saya baca berulang-ulang.

Pikiran-pikiran buruk, bagaimana jika hasil PCR positif covid, lebih ke semacam social pressure bagaimana dengan lingkungan sekitar saya? bagaimana dengan tetangga2 saya? apakah mereka akan panik? Saya membayangkan kepanikan mereka. Belum lagi berkabar ke tempat kerja saya.

Foto oleh Polina Tankilevitch dari Pexels

Hari Rabu, sekitar pukul 10.00 saya menerima notifikasi watsapp tentang hasil lab PCR saya, hasilnya negatif sarcov2. Lega rasanya, segera saya menghubungi teman dan saudara yang mengetahui kendala saya tak bisa pulang, dan tentu saja menghubungi atasan saya yang sudah was-was setiap hari menanyakan kondisi kesehatan saya yang selalu saya jawab baik-baik saja tak ada keluhan apapun.

Belajar dari pengalaman ini, lain waktu jika mendadak mendesak harus pulang dan menggunakan transportasi umum, sebaiknya saya melakukan test rapid-swab-PCR apapun yang disyaratkan oleh maskapai atau KAI terlebih dahulu sebelum tiket issued. Sedih memang, tak bisa langsung bertemu keluarga, tapi kondisi saat ini sudah berbeda dengan sebelum covid-19 melanda dunia.

Corona please please goaway..

Pengalaman test covid-19 (part 1)

3X Rapidtest terhitung sejak awal tahun hingga saat ini sudah Desember, tak berasa. Di awal tahun 2020, bulan April kebetulan saya kena Flu, karena saya tidak bekerja di rumah prosedurnya adalah saya tidak boleh ke kantor dan harus melakukan test rapid yang kala itu harganya tidak se-ekonomis dibanding sekarang. Padahal saya meyakini, kondisi saya sedang Flu saja, dokter yang memeriksa juga menyampaikan hal yg sama. Agar semua tenang dan tak was-was akhirnya saya melakukan test rapid dan hasilnya non-reactive.

Selama rapid test saya selalu melakukan di RS yang sama. Pengalaman test rapid ke-2 dan ke-3 jaraknya tidak lama. Test ke-2 saya lakukan pada 23 november dengan hasil non-reactive.

Test Rapid ke-3 Desember 13, ketika pagi harinya saya menerima berita duka dari keluarga, dan kali ini saya merasa harus pulang apapun yang terjadi. Segera setelah menerima kabar duka, saya mencari tiket pesawat, mempertimbangkan test rapid dg hasil non-reactive sebagai syarat menumpang moda pesawat terbang, saya memilih jam keberangkatan pukul 12.00wib.

Saya sudah issued tiket, sudah rapi dan siap berangkat. Rencananya, selesai rapidtest saya akan segera ke bandara. Saya memutuskan menuju tempat rapid di kantor maskapaianya dengan pertimbangan harga lebih murah, namun menurut petugas dengan penerbangan jam 12.00 dan antrian calon penumpang yang melakukan rapidtest, sedangkan saya datang pukul 09.00 mereka tidak bisa menjamin apakah saya bisa dilayani test, jika terlambat tiket saya tidak bisa refund.

Akhirnya dengan menenteng koper, menumpang ojek, saya pindah ke RS yang biasa saya tuju, tempat rapid test ke-1 & 2 yang pernah saya jalani. Nyesel juga, kenapa ga dari awal saja ke RS. Sambil menunggu hasil test, saya berusaha refund atau rescheduled jadwal penerbangan tapi tak berhasil. Saya pikir, ya sudahlah kalau bukan rejeki saya. Kemudian suster memanggil saya untuk masuk kedalam ruangan dokter. Sungguh tak biasa, biasanya mereka hanya akan menyerahkan hasil test dr dalam amplop “ada yang ngga beres” batin saya.

Dokter bertanya apakah saya dalam kondisi flu? Saya jawab tidak, hari itu atau hari sebelumnya pun tidak ada gejala flu, tak ada demam, batuk, lemas, sendi terasa mau putus, diare ataupun gejala tak biasa lainnya, karena saya paham dari yang saya baca pada jurnal atau artikel atau berita ttg kesehatan lainnya gejala covid bisa beragam dan berbeda antara satu dan lainnya.

Memang beberapa hari sebelumnya saya merasa capek. Capek biasa aja, karena lelah bekerja seperti sebelum-sebelumnya sebelum badai covid menerja,tak ada kekhawatiran atau curiga. Saya capek dan kurang istirahat saja, termasuk ketika mendengar berita duka kepala saya sempat langsung nyut-nyutan saya kira ini reaksi wajar karena kaget dan sedikit shock.

Foto oleh Anna Shvets dari Pexels

Dokter mengatakan hasil rapidtest saya reactive. Jamak tahu, bahwa rapidtest memang tidak akurat untuk memastikan positif atau negatif nya virus di dalam tubuh. Saya harus berpikir cepat, saya batal terbang, tiket tidak berhasil saya refund/rescheduled.

Apakah saya akan coba rapid keesokan harinya? Apakah rapidtest saja kemudian isolasi mandiri minimal 14hari sambil bekerja dari rumah? Tapi apakah memungkinkan? Lagi-lagi bagaimana jika saya benar-benar terinfeksi? apakah saya golongan Orang Tanpa Gejala a.k.a Otege? Saya perlu test lanjutan kah? Swab PCR? Harus segera membuat keputusan.

Dengan hasil test non-reactive dokter membekali saya resep vitamin dosis tinggi Vitamin D, C dan zinc tablet. Saya pikir ga papa juga saya tebus mereka ini, sekalian buat jaga-jaga, just incase pikir saya, meskipun selalu berdoa agar dihindarkan dari segala sakit dan penyakit.

Corona please go away..

Salaam.

Tradisi perjodohan

Catatan, Saya menggunakan kata mirip, sesuai Kbbi mirip artinya hampir sama atau serupa.

Netflix streamed di awal 2020, serial tentang kehidupan keluarga Yahudi orthodox ini menarik buat saya. Salah satu ketertarikan saya adalah perihal perjodohan. Ini mengingatkan saya dengan proses perjodohan yang mirip dengan yang ada dalam Islam atau dalam kultur beberapa wilayah di Indonesia, seperti kultur saya sebagai orang Jawa.

Di Jawa, beberapa orang akan mulai proses perjodohan dengan, mendatangi atau bahkan di datangi oleh pihak ketiga biasa disebut makcomblang bahkan jika dia adalah laki2. Si makcomblang, mereka tidak harus berprofesi sebagai matchmaker seperti auntie Shima dalam India matchmaking , makcomblang bisa saja teman -keluarga, tetangga, kenalan, siapa saja. kemudian mereka dipertemukan masing-masing dengan keluarga. Mungkin sebagian berakhir dengan pernikahana karena terpaksa, atau dipaksa, mungkin lainnya dengan suka rela karena sudah saling menemukan kecocokan.

Buat sampeyan yang belum pernah dengar atau nonton serial ini, saya bagi sedikit cerita, dan trailer dari youtube, serial yang juga mengangkat isu perjodohan (salah satunya saja, diantara isu lainnya).

1. Unorthodox. Serial netflix ini diambil dari kisah memoir Deborah feldman. Esty gadis 19th di jodohkan dengan Yanky yang usianya mungkin sama atau hanya sesikit lebih tua dari Esty. Mereka adalah 2 orang muda yang masih sama-sama lugu dan polos. Esty tidak merasa bahagia dengan pernikahannya, keluarga suami yang turut campur kehidupan rumah tangganya sering ditanya soal kehamilan. Bagaimana bisa hamil? mereka aja ga bisa ngapa-ngapain saking polosnya.

Terlebih, Esty sebenarnya memiliki cita-cita dan passion namun selama dia masih berada dalam lingkungan komunitasnya dia tidak bisa mengembangkan passionnya. Selain itu dia ingin berjumpa dengan sang ibu yang melarikan diri dari komunitasnya. Jadi, Esty ran away. Selebihnya, perihal review dan kritik sila di baca Disini.

2. The awekening of Motti Wolkenbruch, diambil dari karya novel. Serial netflix produksi Jerman genre drama komedi kelurga. Motti seorang mahasiswa umur 20 th-an, terlahir dari Ibu dan ayah Yahudi, kakaknya menikah dengan perempuan Yahudi. Motti diminta sang Ibu untuk segera mencari jodoh, segera menikah!!.

Setidaknya ada 3 perempuan yang dikenal Motti. Michal, pilihan si Ibu yang tentu saja berasal dari keluarga Yahudi kenal melalui proses Sidduch mungkin kalau dalam Islam mirip ~saya sebut mirip~ ta’aruf . Laura, seorang shiksa -wanita non yahudi- teman sekelas Motti di kampus, bisa dianggap teman tapi mesra, karena sebelumnya mereka ga pernah menyatakan sebagai pasangan pacar. Yael perempuan yang ditemui Motti di tanah Palestina (sorry guys, saya tak akan pernah bisa sebut nama lainnya) perjalanan yang dia lakukan atas saran Rabbi agar siapa tau dia menemukan calon pengantinnya. Review dan kritik sila baca disini disini.

3. Sthiesl sinetron drama keluarga banget. Konfliknya ga pake acara geram amarah murka, ga pake teriak-teriak dengan adegan melotot zoom In zoom Out.

Alkisah, tersebutlah Akiva Sthiesl seorang guru SD seperti ayahnya yang gemar membuat sketsa dan melukis, anak tertua dari 3 bersaudara. Akiva diminta segera menemukan jodoh, kedua adik perempuannya sudah menikah. Akiva pun telah pernah berkenalan dengan perempuan melalui pihak ketiga ~matchmaker~sidduch~mak comblang dalam bahasa kita.

Pada satu hari, ditengah kegalauan pada acara melamar perempuan yang dikenalnya (saya lupa namanya, update kalau sudah ingat) dari pihak ketiga, Giti si adik memberi nasehat “lebih baik bercerai daripada membatalkan pertunangan”, saya manggut-manggut, saya tidak hendak mendebat atau menganggap buruk prinsip ini karena kita memiliki tradisi dan kepercayaan berbeda (atau saya salah menerjemahkan subtitle nya ya? Saya lupa di season dan episode berapa dialogue line tsb, pls cmiiw).

Akiva ternyata lebih tertarik pada Elisheva, ibu dari anak murid tempat dia mengajar di SD seorang janda dua kali yang meskipun juga memiliki ketertarikan pada Akiva, namun dia masih dibayang-bayangi almarhum kedua suaminya. Review dan kritik disini.

Memang urusan jodoh ini gak mudah untuk sebagian orang ya. Jadi berbahagialah dengan yang anda miliki.

Salaam.

Beli buku karena cover atau popularitas

Sampeyan beli buku berdasarkan cover atau berdasarkan popularitas? I do both sometimes. Saya pernah beli buku karena covernya yang menarik, tapi saya tidak menghabiskan sisa bacaannya karena tidak sesuai ekspektasi. Rasanya pengen saya robek bagian cover dan saya simpan secara terpisah karena covernya terlalu menarik, tapi tidak saya lakukan, lebih baik saya hibahkan mungkin orang lain ada yg tidak mempermasalahkan isi bukunya.

Kemudian, saya membeli berdasarkan popularitas dan membaca sedikit review pembaca. Padahal, kalau menurut salah satu kawan saya yang hobby membaca sebaiknya jangan baca review kuatir nemu spoiler bikin ga ada kejutan lagi. Ada benernya juga.

Untuk buku2 import berbahasa inggris saya melihat rating bintang dari pembaca dan sedikit baca review saya ngandelin goodreads untuk hal ini. Soal rating star dan review ini lebih karena faktor harga. Sayang kalau beli mahal tapi akhirnya ga dibaca. Pernah kejebak juga, kejebak karena faktor bahasa nya yang terlalu sulit ga nutut di otak saya (ga nutut= ga terjangkau), belinya impulsive, padahal film nya bagus. Walhasil buku itu tak terbaca oleh saya hingga saat ini.

Foto oleh Ksenia Chernaya dari Pexels

Semacam dilema

Dahulu, kami memiliki lemari besar sederhana saja, isinya jurnal-jurnal yang bapak terima dari tempat dia bekerja. Jaman dahulu komputer belum populer, komputer adalah barang istimewa, kami tak punya, bapak tidak bisa menyimpan jurnal-jurnal dalam bentuk soft copy.

Lemari besar nan sederhana itu juga di isi beberapa buku yang kebanyakan bapak beli dari pasar buku bekas. Setelah bapak tiada, lemari didonasikan kesebuah sekolah swasta di kampung kami. Sebagian buku ada yang diminta kawan bapak sebagai kenang-kenangan katanya, dan jurnal-jurnal itu sudah menguap lah. Sisa buku koleksi bapak beberapa kami simpan. Beberapa kali saya mencoba baca-baca buku yang bapak beli yang tentu saja semuanya non-fiksi.

Saya, pengumpul buku. Meskipun koleksi buku saya belum banyak. Beberapa saya baca, beberapa tak sanggup dibaca dengan alasan 1. Faktor bahasa yang ternyata saya susah mengerti 2. Ternyata bukan genre saya, not my kind of book.

Beberapa tahun lalu saya sempat donasikan sebagian buku koleksi saya, belakangan saya sudah tidak mendonasikan lagi karena sulit memilih dan memilah. Sejak sering lihat akun toko buku bekas online, saya jadi mikir “ini buku-buku yang saya punya mau saya apakan? Apakah anak-keponakan suka membaca? Apakah koleksi saya adalah genre mereka?”

Padahal sudah sering kali saya mendorong anak-keponakan untuk membaca yang saya baca, saya ga tau apakah saya egois? Atau saya berharap mereka membaca buku rekomendasi saya yang saya anggap bagus ini?

Pikiran-pikiran itu kerap muncul kalau saya belanja buku2. Saya ga siap jika kelak harus meloak-kan(=menjual) buku-buku ini, tapi buat apa saya simpan lama-lama? tapi saya belum rela mendonasikan ke siapa pun, saya kan medhit (=pelit). Saya ga tau berapa lama akan menyimpan buku-buku ini.

Rencana besar “A suitable boy”

Bukan review

Sejak lama lihat tayangan instagram Bbciplayer saya mendadak pengen ke Inggris, sepertinya mereka punya banyak sinetron bagus ga sekedar sinetron “kumenangis” atau segala azab yang akhirnya jadi bulanbulanan netizen, padahal saya juga sudah lama sekali ga jonton TV.

“A suitbale Boy” yang bikin saya pengen sebentar saja ke Inggris buat nonton sinetronnya. Ke Inggris cuma buat nonton sinetron? Sama dengan belagu. Iya, saya memang belum pernah ke Inggris, lagipula saya gatau gimana caranya nonton serial di saluran Bbc sedang saya di Indonesia, oh tunggu saya sudah google bagaimana caranya dan tampaknya ribet.

Saya girang, ternyata netflix juga bisa streaming serial ini yg mulai diputar tgl 22 oktober. Ga pake lama, saya binge watched sepulang kerja. Hari jumat nonton 2 episode dan jatuh cinta pada Maan sejak episode ke-2, dilanjutkan esok hari saat weekend.

Serial yang terdiri dari 6 episode ini setiap episodenya berdurasi sekitar 59menit diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Vikram Seth yang mulai terbit tahun ’93. Buat saya, idealnya, menonton film adaptasi novel sebaiknya memang membaca novelnya dahulu, tapi karena ga punya novelnya ordernya pun nunggu terlalu lama akhirnya saya putuskan segera nonton meskipun saya berhenti nonton di beberapa menit terakhir pada episode ke-5. Saya berhenti nonton karena saya punya rencana.. rencana besar tampaknya, membaca bukunya, saya pengen tau karakter setiap tokohnya, detail cerita dan konfliknya yang tentu saja tidak semua bisa ditayangkan dalam versi audio visual atau sinetronnya apalagi hanya dalam 6episode saja.

Saya ga tau apakah saya bisa sesabar itu menunggu sampai akhirnya memutuskan “tonton sajalah kelanjutan episode ke-5 dan dan ke-6”. We’ll see.

Toilet

Ketika berada ditempat baru saya sering harap-harap cemas dengan kondisi toilet. Karena “panggilan alam” ini kan seringnya ga bisa ditahan ya, jadi kondisi menyelesaikan private bisnis (baca buang hajat) harus dilakukan di tempat yang layak & bersih.

Kalau lokasinya terlalu jauh & saya tau kondisi toiletnya ga bersih, biasanya saya bener2 musti ngatur makanan dan minuman yang saya konsumsi. Juga untuk penerbangan/ perjalanan jauh. sayangnya keadaan kayak gini bikin ga tenang, kadang malah kayak rada setress gitu.

Saya pernah ngalamin kondisi kebelet pipis tapi toiletnya.. ya allah… you dont wanna know deh. Ada saat ketika saya bisa mendadak ga pengen pipis.

Tapi pernah juga, pas saya dari Bromo dan kami keliling sekitar Bromo sampe ke arah semeru, waktu itu saya kebelet pipis. Dilokasi kayak gitu, gada perumahan penduduk, ada warung kecil tempat transit pendaki semeru, tapi ga punya toilet dan saya diarahkan ke satu tempat bentuknya gubuk reot yg lokasinya agak naik ke dataran tanah yg agak tinggian, kita (saya dan sampean) bisa melihat jalanan, danau dibawah dan pepohonan disekelilingnya. 

Di dalam “toilet” ada sumur, lantainya tanah dg potongan kayu2 yg berserakan, agak becek,  mungkin krn tumpahan orang2 yang ambil air sumur, airnya bening banget dan dingin, berdinding bambu yang banyak celah lobangnya, bagusnya tidak ada sampah berserakan disini. Mungkin memang ini toilet darurat.

Saya dah kuatir aja diintip orang. Tapi teman saya meyakinkan saya bahwa dia akan berjaga di depan pintu, dan mastiin gak akan ada yg ngintip dr lobang dinding, dlm hati semoga gak ada kamera tersembunyi. Selesai urusan teman saya nanya “lega?” Saya ngangguk, beneran lega deh bisa pipis. ke gunung dingin beser mulu, itu tdk menyenangkan apalagi kalo ga nemu proper toilet.

Cerita yang beda lagi, pas bertahun tahun lalu saya liburan bareng teman di satu pulau. Satu hari kami makan siang di satu restoran pinggir pantai, sebelum makanan tiba teman saya ke toilet begitu balik dengan sumringahnya bilang kamu musti lihat, toiletnya bagus lho Gak nunggu lama, saya tinggalin dia di meja dan meluncur ke toilet, dipintu masuk ada semacam lobby dengan meja yg diatasnya ada vas dengan rangkaian bunga segar. Didalam toiletnya pun ga kalah rapi bersih wangi yang beneran wangi bukan aroma toilet.

Sebut saja norak, tapi ya gimana ya.. sampeyan pasti sama lah dengan saya, kalo toilet bersih tu beneran bikin lega.