Harap Maklum

Sejak memakai kacamata 15tahun lalu, sudah banyak kejadian yang sampai sekarang bikin saya ketawa kalau ingat.

Ini hanya satu diantaranya,

Saya kehilangan kacamata di beberapa tempat saya kira dah pernah saya ceritakan.

Pernah, sepulang kantor ketika sedang menunggu bus yang tidak sebentar itu saya dan seorang kawan tidak mau menggunakan kacamata kami. Kalau sampeyan pemakai kacamata mungkin anda merasakan yang sama dengan kami bahwa pake kacamata tu capek.

Jadi, karena melihat tanpa kacamata itulah sudah 2X bus yang mustinya kami tumpangi lewat begitu saja. Baru sadar ketika melihat belakang bus bernomor tujuan kami. Ngejar bus pun gak mungkin.

Menurut pengakuan teman dan kenalan, ketika menyapa saya yang tanpa kacamata di jalanan respon saya hanya terdiam, mungkin saya terdiam karena mencoba mencari arah suara yang manggil. Kadang saya hanya berhenti sebentar kemudian berlalu begitu saja.

Sering ditanya seperti apa objek yang saya lihat tanpa kacamata?

Saya kira itu bervariasi, tergantung ukuran ples-mines kacamata yang kita pakai. Bisa jadi penampakan objeknya tampak seperti foto yang tak fokus dibawah ini, bisa jadi lebih buram.

Jadi harap maklum kalau menjumpai orang seperti kami ūüėä

1571401788235

Kupang lontong

Ini bukan saya mo cerita tentang kota Kupang di Nusa Tenggara sana ya. Ini tentang kupang salah satu makanan favorit saya. Kupang lontong.

Setiap mudik, ada dua menu makanan yang rasanya wajib saya coba. Tahu campur dan kupang.

Kenapa wajib? Tidak seperti soto ayam, yang dimana-mana ada. Tahu campur dan kupang lontong tidak begitu, mungkin karena makanan ini mengandung petis yang tidak semua orang suka, tidak cocok dilidah banyak orang.

Terlebih kupang, bahan bakunya tidak mudah yaitu kupang yang adalah sejenis kerang putih yang konon hanya ada di wilayah pesisir timur jawatimur seperti surabaya, sidoarjo, pasuruan.

Ibu saya tidak memasak 2 jenis makanan ini dirumah, khusunya kupang. Itu sebab setiap pulang dua makanan ini wajib saya coba, juga karena nostalgia masa kecil bersama bapak ibuk dan kakak-kakak saya ketika dulu masih sering bepergian mengunjugi kerabat di daerah surabaya dan sekitarnya selalu menyantap dua jenis makanan ini.

Kembali ke kupang yang nama latinnya¬†corbula faba sebagian orang menolak mengkonsumsi makanan ini karena dianggap cara mendapatkan makanan ini “jorok”, seorang teman bahkan menyebut makanan ini sebagai salah satu makanan ekstrim karena proses mendapatkan kupangnya.

Saya kira, bagaimanapun saya meminta mereka mencoba menyantap kupang dan menjelaskan bahwa untuk mendapatkan kupang tidak seperti cerita yang mereka terima, mereka sudah terlanjur menerima cerita-cerita yang disimpan memori dan membayangkan yang “aneh-aneh”. haha! Sudahlah, saya anggap keuntungan buat saya, karena tidak perlu berbagi dengan lainnya. Bisa di google cara mendapatkan kupang dan rumornya.

Jadi, pulang kemarin hanya menyantap kupang karena warung tahu campur langganan sudah pindah entah kemana atau bahkan sedihnya mungkin sudah tidak berjualan lagi. Tahu campur ini warung langganan keluarga sejak saya masih kecil sekali, tidak menemukan warung ini berarti semakin hilang aja nostalgia sama bapak saya.

Betapapun sebagian orang menyebut kupang ini kategori makanan ekstrim, sebagian lainnya menganggap jorok, jijik dan semacamnya, buat saya ini salah satu makanan terenak bahkan kupang memiliki kandungan protein dan zat besi tinggi, coba deh google.

Kuahnya bening dengan irisan bawang mentah kemudian dicampur petis, aduk agar petis tercampur rata dipiring sajinya dan kucuri perasan jeruk nipis, rasanya manis asam segar. Mungkin memang tidak direkomendasikan bagi yang alergi makanan laut. Tapi bagi pecibta kuliner silahkan coba.

1560952392111

Kupang lontong ditemani lento. Bungkusan (di foto itu) pepes dan botok kupang, saya dah pernah coba, rasanya juga enak. Favorit saya tetap kupang lontong.

1560952483023

Lento, makanan pendamping kupang terbuat dari parutan singkong yang diberi bumbu dan di goreng.

1560952000585

Warung langganan saya, yang hanya dikunjungi tiap pulang. Di malang, di daerah blimbing- perempatan. Di seberang warung ini juga ada warung kupang, saya lebih sering yang kesini

Jadi, sampeyan percaya rumor cara penangkapan kupang? Atau ga peduli dan mau cobain kupang lontongnya aja? Cobain deh !

Oleh oleh mudik lebaran

Sebenarnya sudah lama saya tiap mudik (lebaran) ga bawa oleh-oleh buat orang rumah. Terlalu berat bawaannya, malas menunggu barang keluar dari conveyorbelt, lebih suka naruh barang di cabin aja biar cepet. Kalau naik keretapun malas angkat geret tas dan kardus dilorong keretanya.

Seringnya, setiba di rumah saya bawa bocah-bocah¬†penggemarsaya ke toko kelontong komplit atau yang¬†martmart¬†itu buat jajan terserah meski ibunya berpesan¬†no ice cream¬†tapi dengan auntie ru “ice crem is ok”.

Seperti biasa, setiap mo pulang mudik saya kerumah tante buat pamitan, tante pun katanya mo nitip-nitip buat orang rumah, saya dah bilang ga bisa bawa banyak-banyak.

lha tapi, begitu nyampe rumahnya, jengjengjeng ternyata bawaannya banyak juga, dan yayayaya sebagian dari sampeyan mungkin akan tertawa melihat barang bawaan saya. Diantaranya, bumbu-bumbu ketumbar, kemiri, jintan..

Emang di kota saya ga ada? Ya ofcourse ada. Ibu saya pasti juga punya stok di rumah. Yatapi, namapun adek ya, pengen bawain oleh-oleh buat mbakyu nya ya saya bawa aja biar mereka seneng.

Seperti mudik lebaran kali ini, barang yang punya saya cuma 3 baju dan alat make-up¬†ga banyak. Sisanya titipan bulek semua. Pertanyaan sampeyan mungkin “kenapa ga dipaketin aja sama tante saya?”. Saya ga tau, mungkin kalo dipaketin perlu ongkos? Tapi saya kira bukan soal ongkos, yang ngangkut barang bawaanya ke agen pengiriman yang ga ada.1559469759950

 

 

Baju lebaran

Merlin dan Martha dah beli baju lebaran deh. (Kalau¬†sampeyan¬†follow Ig atau youtube arifmuhammaddd_ pasti tau maksud saya ūüėČ)

Awal minggu Ramadhan sengaja saya jalan-jalan ke satu dept. Store. Padahal baru juga awal puasa dept.store nya dah rame pengunjung.  Dari pengamatan saya, lebih banyak pengunjung di bagian baju anak2.

1559355624621

Orangtua yang sibuk milih-milih baju, dan fitting ke anak-anak mereka, repot sekali kelihatannya. Mungkin kalau saya dah jadi orang tua beneran saya juga bakal duluin beliin buat anak.

1559355791730

Soal apakah hari raya perlu baju baru atau nggak? Terserah sampeyan kalau duitnya ada dan memang perlu baju baru karena yang lama sudah ga muat atau gak layak atau sejenisnya, ya monggo.

1559355703520Atau, punya prinsip bahwa hari Raya gak perlu baju baru yang penting pakai baju bersih dan rapi, karena inti hari Raya bukanlah pada baju barunya.. itu juga sangat bijak.

Saya merhatiin kakak2 saya, maunya ga perlu baju baru buat lebaran, karena bisa pakai yang lama. Tapi, saya yakin mereka juga ada dilema, ada perasaan kasihan kalo ga dijajanin baju baru, tapi mereka juga ingin mendidik anak2 nya tentang makna hari Raya yang ga melulu soal baju baru. Untuk urusan begini harus punya mental kuat kayaknya.

Kakak2 saya memang ga jajanin baju baru untuk Raya, tapi ternyata ibu kami bikinin mereka baju buat dipakai Raya. Orang tua memang begitu ya, ga tegaan.

Saya aja pas liat beti belum dibeliin baju lebaran sedih, padahal martha dan merlin dibeliin lebih dari satu baju lebaran. Tapi kayaknya mak beti dah beliin beti baju lebaran di toko online yang ada hadiah undian umroh itu deh saya liat di youtubenya, sukurlah.

Jadi, sampeyan (dah) beli baju lebaran gak?

 

 

 

 

Sep-sepen

Beberapa hari lalu, pulang kerja saya mampir warung langganan untuk membeli makanan berbuka dan sahur, sudah biasa saya lakukan sejak lama karena saya malas memasak.

Ramadhan kali ini saya sudah memutuskan akan mengkonsumsi sayur lebih banyak dibanding tahun lalu, yang selalu diisi hanya dengan gorengan dah cukup.

Saya berhasil, sampai dengan saya bikin catatan ini saya masih konsisten dengan lebih banyak sayur dibanding gorengan, meskipun gorengan masih nemenin tapi intinya ga sebanyak dibanding dulu, ngelesnyamasihjadikebiasaan.

Kembali tentang ke warung dan sayur, pilihannya adalah sayur tumis kancang panjang dan toge ini standard karena mungkin bahan yang didapat dan memasaknya juga mudah,  juga satu jenis tumis lain saya minta bungkus terpisah. Setelah sholat maghrib saya mulai makan, saya surprise karena tumisnya beraroma pete, mendadak sedih. Saya coba cari-cari si pete dengan mengacak-acak tumisnya ga nemu, saya kira mungkin lidah pencecap saya sedang sensitif? Tapi sepertinya ga mungkin.

Saya lanjutkan makan, mencoba lagi sesuap dan masih terasa sama, saya acak-acak lagi makanan saya dan akhirnya ketemu potongan kecil pete setelah beberapa kali mengacak-acak makanan. Saya urung makan tumisnya, saya makan tumisan lain yang sempat saya minta bungkus terpisah, haqqul yaqin tumisan yg ini ga ada pete nya.

1558791432628

Bapak saya sering mengingatkan untuk tidak mencibir makanan. Saya tidak sedang mencibir si pete. Hanya, saya memang menghindari makanan sejenis ini termasuk jengkol terlebih saat puasa begini. Ini tidak sulit karena saya selalu menghindari keduanya.

Mungkin kalau sedang cuti kerja dan dirumah ibu saya, mungkin…mungkin mau makan pete karena tidak bertemu siapa-siapa. Meskipun saya tidak makan tumisan tadi apalagi potongan kecil petenya, saya kuatir saat jelang siang mulut saya akan terasa pete dan bikin ga pede, betapapun sudah gosok gigi dan dibarengi kumur cairan¬†mouthwash¬†masih akan terasa pete. Orang jawa dikampung saya menyebutnya¬†sep-sepen,¬†kondisi ketika mulut kita terasa makanan (tertentu) dan ini tidak menyenangkan, kira-kira seperti itu maksudnya.

Usai makan, padahal saya hanya mencoba 2 sendok tumis tapi masih terasa pete nya. saya mengambil setengah sendok gula pasir masukkan kemulut, tidak saya kunyah dengan gigi, tapi lidah berisi gula tadi saya gosokkan ke langitlangit mulut upaya menghilangkan rasa pete, ini tips dari ibu saya. Setelahnya baru gosok gigi dan berkumur mouthwash. Berhasil.

Selain makanan beraroma seperti pete dan jengkol juga bawanggoreng saya hindari saat puasa begini, o saya juga menghindari ikan asin yang menjadi favorit saya sehari-hari. Pengalaman saya ketika kecil yang bikin kapok, saking sukanya dengan ikan asin, saya sahur dengan nasi dan ikan asin padahal sudah dilarang ibu, siang harinya mulut saya terasa ikan asin meski sudah gosok gigi berkali kali, orang jawa dikampung saya menyebutnya juga sep-sepen.

Saya tidak tahu bahasa Indonesia sep-sepen, mungkin istilah itu seperti ketika kalau kebanyakan makan jengkol jadi jengkolan, lalu apa juga kalo kebanyakan makan pete jadi petean? Saya ga tau, sampeyan tau ndak?

 

Sarapanpagi

Lama sekali ga nyambangi (menengok) blog, sudah lama terbengkalai dan abai. Tiba tiba sudah berganti tahun. Saya salut dengan yang masih konsisten menulis dan bercerita di blognya.

DSC_0247.JPG

 

Jadi, saya mau ngapain setelah sekian lama acuh dengan blog? dan belum tau berapa lama akan bertahan untuk terus berbagi cerita receh, Besok senin 6 Mei pun inshaa allah dah mulai 1 Ramadhan artinya hari pertama puasa, trus?

Saya mau cerita aja tentang pagi ini. Pagi ini pas jalan jalan minggu di car free day sambil cari sarapan. Setelah muter-muter cari tempat makan “yg banyak pengunjungnya pasti enak mbak” begitu menurut teman saya. Jadi, pilihan jatuh pada penjaja soto mie sebelah grand Indonesia hotel indonesia kempisnki.

Setelah menunggu antrian kursi, akhirnya dapat juga kursi yang padahal ga perlu reservasi macam di resto. Sekelompok orang dengan seorang gadis remaja duduk disamping kami, memesan soto mie.

Apakah saya akan berbagi review soto mie sarapan saya pagi ini? Tunggu…

Saya lupa bagaimana awalnya, yang saya dengar salah seorang dari mereka berkata kepada bapak didepan saya “we’re from Thailand” saya mbatin “ahh saudara jauh”. 3 orang bapak, satu memakai batik, satu berbaju koko, satu memakai kaos dan seorang gadis remaja dan ibu berkerudung.

Saya tidak ikut mengobrol hanya “overheard” dan ikut manggut-manggut tersenyum dengar cerita mereka. Bapak asal Jakarta didepan saya yang berusaha menjelaskan bahwa ” this is soto mie bogor” dan gerobak disebelah “that is sate padang” beliau menunjuk gerobak disebelah.

Ibu yang bersama mereka sempat mengeluh kepada saya “i was going to buy water asking for the price but he couldnt speak english and i dont understand indonesia” dia tampaknya hanya menyesalkan kendala bahasa, bukan sesuatu yang berlebihan kemudian dia membeli beberapa botol minuman disamping gerobak soto mie kami.

Baru juga bertemu beberapa menit, sekelompok orang ini yang saya yakin mereka adalah keluarga, membayar air minum kemasan bapak didepan saya yang berasal dari jakarta “i already pay” kata si ibu, si bapak dari jakarta dan istrinya buru-buru membalas “no.. no.. please dont” sambil menunjuk botol air kemasan yang sudah mereka beli.

Hari ini saya ingat cita cita saya dahulu, yang sempat mengendap belum tercapai adalah berkunjung ke Thailand ke wilayah Pattani terutama, dimana disana banyak berdiam keturunan melayu dan bahkan anak keturunan kh ahmad dahlan tokoh pahlawan nasional indonesia, dan konon komunitas muslim keturunan Jawa.

Dan hari ini saya belajar satu hal, karena mereka adalah warga Thailand pertama yang pernah saya jumpai, bahwa kita ini sama-sama saudara serumpun sama-sama Asia, habit kita sama merasa sesaudara dan ramah satu dengan lainnya.

Hari ini saya belajar lagi sambil berdoa karena Ramadhan lagi, inshaa allah saya selalu berjumpa dengan orang-orang baik yang saling menghormati menghargai dan menjaga satu dengan lainnya.

Lalu, apakah pendapat teman saya soal warung yang banyak pembelinya pasti enak? Dalam perjalan pulang sambil tertawa membahas santapan kami, kami sepakat bahwa ternyata teori itu tidak selalu benar.

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan, Inshaa allah terkabul doa dan citacita.

 

 

 

it’s twen-ty fi-ve

Saya berjalan-jalan di pertokoan dan masuk disatu toko baju, belum ada niat belanja entah lihat-lihat saja dulu kalau ada yang cocok barang dan harga saya akan memikirkan serius soal pembelian.

Sedang asik memilih-milih dan memutuskan bertanya harga abaya, seorang ibu menghampiri saya tampaknya dia mengajukan pertanyaan, karena dalam bhs arab saya bilang “im sorry i dont speak arabic” ibunya tersenyum.

Si ibu masih berdiri di depan saya “how much” ahh sukurlah, lega saya dengan pertanyaan si ibu “its twenty five ¬†riyal” si ibu menggeleng, saya kira kami sepakat harga ini cukup mahal, saya tersenyum. Tapi sekali lagi ibu bertanya “how much?” Saya jadi curiga si ibu tidak paham yg saya ucapkan, jadi saya mengulang kali ini ¬†dengan gerakan tangan “twen-ty fi-ve” saya mengacungkan jari 2 & 5. Si ibu tersenyu dan menggeleng.

Si ibu masih berdiri didepan saya beliau turut memegang bahan abaya, kemudian dia menatap saya dan menggenggam lengan saya “vietnamese?”, dimana-mana saya rasanya lebih sering dikira Vietnam Thailand Filipino bahkan ketika sudah berkerudungpun.

Mungkin mata kecil saya ini, iya saya kira mata kecil saya seperti teman saya dulu kerap menggoda “hey you with your small eyes”, tapi ini di tanah Haraam ketika lebih banyak orang mengenali wajah Indonesia dan Malaysia, tapi justru ibu ini mengenali saya sebagai vietnamese.

Si ibu masih menatap saya sambil tersenyum tangannya belum melepaskan lengan saya, saya masih mengingat beliau, tubuh kecil, berbaju abaya hitam kerudung putih dengan scarf melingkari lehernya penanda travel agent dan bendera negara, ¬†berkacamata, kulitnya yang putih dengan hidung yang tinggi (mancung) sangat khas, dan wajah cantiknya. Saya bertanya darimana beliau berasal “al giers, Al-Jazair” katanya, saya menggumam dalam hati “O Allah saya juga pengen ke Al Jazair”.

Tidak tahu apa yang ada dipikiran beliau, sama seperti tatapan mata nenek Pakistan yang saya jumpai di masjid Nabawi. Si Ibu dari Al-Jazair, dengan senyum dan tatap mata dan kali ini beliau menggenggam tangan kanan saya, cukup lama seperti sedang mengamati saya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya, kalau saja saya bisa sedikit Arab ataupun Perancis saya pengen nanya “ibu apakah saya cocok jadi menantu panjenengan? ¬†Hingga panjenengan tak berhenti menatap dan ¬†tangan panjenengan tak juga lepas dari tangan saya?” Oopss ūüôäūüôą

Kemudian si ibu memberi salaam sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan saya, saya membalas “waalaikum salaam” doakan saya ya bu, inshaa allah saya doakan ibu juga, saya membatin.

Salaam

 

*Panjenengan, kromo inggil tingkatan bhs jawa tertinggi yang berarti anda, ditujukan untuk orang(yanglebih)tua dan atau yang dihormati

 

 

 

Indonesia…Indonesia!!

Jadi saya sepakat meski ga tahu besaran prosentasenya bahwa, Indonesia menyumbang jamaah terbesar haji & umroh di Negara kerajaan Saudi Arabia. Apalagi negeri ini menjadi tujuan bekerja bagi para pahlawan devisa Indonesia. Melihat interaksi penjual lokal yang menggunakan bhs Indonesia dengan pembeli  Indonesia jamak tau bahwa populerlah orang Indonesia ini.

Atau, pernah ketika mampir di satu toko penjual bertanya dari Indonesia bagian mana kami ini? Belum sempat dijawab mereka sudah menyebut “Bandung!” sambil senyum-senyum, kamipun menggoda dengan kata “Bogor! Pernah ke bogor?” justru kami kembali bertanya, penjaga toko (yang mungkin sekaligus pemilik) senyum-senyum, hehe Bogor sangat populer memang bagi turis dari Arab, jadi tak perlu berpanjang-panjang disini ūüėÄ.

Atau juga pertemuan saya dg seorang ibu pakistan yang langsung menembak asal negara saya, ceritanya bisa dibaca  disini

Sekali pernah ketika saya berjalan menuju penginapan sepulang dari masjid, segerombolan bocah laki-laki usia sekolah dasar berjalan didepan saya sambil menunjuk girang “indonesia.. Indonesia…indonesia” seolah ingin berkata Indonesia lagi Indonesia.

Belum lagi ketika saya berjalan-jalan di pasar, seorang bocah yang mendorong kursi roda dengan anak kecil laki-laki yang lebih muda duduk diatasnya menghentikan saya tiba-tiba “Indonesia? Malaysia?” menodong saya dengan pertanyaan pilihan, saya bilang Indonesia, anak itu kemudian berlari menjauh sambil mendorong kursi roda sembari berteriak “In-donesia..In-donesia..In-donesia” hingga saya tak melihat dan hanya mendengar teriakannya yang semakin jauh.

Lucu saja sekaligus senang melihat polah orang dewasa hingga bocah-bocah ini.

Salaam ūüá≤ūüá®

 

 

Asna & Mohammed

Melihat ada celah sedikit dibarisan shaff belakang saya bergegas sebelum ditempati orang lain, menjelang azdan begini sulit mendaptkan shaff dan saya nyaris terlambat tiba di masjid. Usai menunaikan 2 rakaat tahiyatal masjid, maunya saya pake kacamata kuda saja maksudnya tidak memperdulikan siapapun disamping kanan kiri saya, tapi saya selalu merasa ada yang memperhatikan saya.

Saya menoleh ke samping kanan saya. 2 pasang mata bulat memperhatikan saya sambil menyunggingkan senyum, bocah laki-laki dan perempuan, saya taksir usia mereka tidak terpaut jauh masing-masing 5& 4 th saya gemas melihat mereka . “assalamualaikum” sapa saya, gadis kecil mengangguk dan menguggumam.

Saya merogoh saku tas, syukurlah ada sekotak kecil permen mint strawberry yang sering saya bawa setiap kali bepergian mengusir sekedar lelah yang bikin saya kerap kali menguap.

Mereka masih menatap saya dengan senyum lebar di bibir, saya menyodorkan kotak permen dan diterimanya dengan senang .Bibir mereka terus menerus tersenyum, si gadis kecil membuka kotak permen itu dan membaginya ke bocah laki-laki.

Saya kembali menyibukkan diri dengan berdiam, tapi 2 pasang mata masih saja memperhatikan saya. Tak tahan akhirnya saya menyebut nama saya ” iam..” saya meletakkan tangan saya di dada saya harap mereka mengerti meski ragu tanpa bermaksud meremehkan sebenarnya saya ¬†ragu mereka paham bhs inggris, tampaknya mereka terlihat dari negerinya alm. Benazir Bhutto, gadis kecil itu membalas “iam Asna and this is my brother Mohammed”,iam mohammed” timpal bocah laki-laki yang saya kira lebih muda.

Maafkan saya karena keterkejutan saya dan sebenarnya saya senang mereka bisa bercakap bhs inggris “wow you speak english?” Asna mengangguk penuh semangat dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka “my teachers in school speak english so i speak english too”¬†Mohammed menimpal hal yang sama “no you dont go to school Mohammed ” seru Asna, “Mohammed doesnt speak English he speaks Urdu” tambahnya setengah berbisik ke saya, saya tersenyum “you’ll go to school when you grow up just like Asna, you’re a smart boy” kata saya, Mohammed tampak tersipu.

Konsentrasi dan tujuan saya ke masjid teralihkan kehadiran mereka, saya tau seharusnya saya tidak banyak bicara di masjid ini, tapi dua bocah ini benar-benar mengalihkan perhatian saya, saya punya 2 pilihan mengabaikan mereka atau meladeni ocehan dan cerita mereka?, esok sayapun tak tahu apakah akan bertemu mereka lagi diantara milliaran manusia disini. Jadi, saya putuskan mendengarkan segala tanya cerita dan celoteh mereka, kami bicara pelan-pelan agar tidak mengganggu jamah lainnya.

Azdan sudah berkumandang, kami berdiri shaff kami cukup sempit Asna menguasai tempat saya sehingga beberapa kali saya tidak bisa bersujud hanya duduk dan membungkukkan badan pengganti sujud. Saya sama sekali tidak keberatan justru seusia mereka Musti diajarkan beribadah, meskipun Asna sedang tdk mengenakan penutup kepala hanya berkaos lengan pendek celana panjang denim, Asna dan Mohammamed mengikuti gerakan sholat.

Asna dan Mohammed tampak senang dengan pemberian permen dari saya, saya sapa ibu mereka yang duduk disamping asna saya sampaikan bahwa saya memberi permen dan sudah sampaikan kepada mereka bahwa cukup untuk hari ini permennya besok dimakan lagi, ibunya mengangguk kemudian melanjutkan membaca Al-Qur’an, hal yang seharusnya saya lakukan juga. Agak iri juga sebenarnya, saya ingin melakukan hal yang sama seperti yg ibu mereka lakukan, tapi tampaknya 2 bocah ini ingin ada orang dewasa yang mengajak mereka mengobrol.

Asna mulai berceloteh ” we have a little brother name bunny“, saya mengerutkan dahi , dengan mata lebar dan senyum manisnya dia mengngguk -angguk “yess, bunny just like rabbit” ¬†seolah membaca keheranan saya “he must be cute” kata saya, mereka berdua mengangguk cepat. Asna lebih banyak mendominasi percakapan dia bercerita tentang bunny si adik kecil tentang ayah mereka yang tinggi “but im small” kata Mohammed terduduk lesu, “its ok because you’re still a little, when you grow up you ganna be tall like your daddy even taller” saya mengusap kepalanya. Mohammed, seperti biasa dia tersipu, kemudian mengeluarkan uang satu rupee dan memamerkan kepada saya dengan diletakkan di dahinya “look!¬† i have one rupee”, saya pura-pura terkejut “wow thats alot” Mohammed tersenyum, ibunya manis, anak-anaknya cantik dan tampan bapaknyakayaknyagantengjugaini

“auntie! why you look sad?” tanya Asna tiba-tiba, saya menghentikan zikir “no, im not sad. im happy to be here, im happy to meet you and Mohammed”, mereka tersenyum saya tidak tahu kenapa Asna melihat saya tampak sedih? Mungkin wajahnya saya tampak kelelahan saja “where are you from auntie?” tanya asna menyelidik sambil memegang lengan saya, Indonesia jawab saya ” is it far?”, saya mengangguk “yes its quiet far from here. listen! when you guys grow up youll go to Indonesia and see how Indonesia is as beautiful as Pakistan” kata saya berpromosi, Asna tersenyum mengangguk diikuti Moahmmad yang tampak lebih sering mengikuti apapun yang dilakukan Asna. Saya mengusap kepala mereka dan mendoakan segala kebaikan untuk mereka, Asna dan Mohammed tampak senang sekali dipuji dan diusap kepalanya, mereka tak tampak takut ataupun keberatan.

“where is wash room auntie?”¬†tiba-tiba Mohammed mengajukan pertanyaan, saya khawatir dia ingin pipis jadi saya mengulang tanya “bathroom?” “no..washroom” tanya Mohammed. Toilet jauh dari tempat ini, saya tidak bisa mengantarkan anak orang ke tempat umum. Asna masih berceloteh dengan saya ketika Mohammed menuju ibunya, kemudian mereka bertiga berbicara dalam Urdu “its Ok mommy you can go to washroom with Mohammed, i stay” ucap Asna Menoleh sekilas kemudian menatap saya.

Saya tidak tau apa yang mereka perbincangkan, tiba-tiba ibunya merapi-rapikan sajadah, berdiri dan menggamit tangan kedua anaknya, sebelum pergi Asna menatap saya dia tak tampak ceria tak ada senyum diwajahnya, mereka tak sempat berpamitan pada saya tapi ahh siapa saya? hanya orang asing, random people yang mereka temui.  Saya tersenyum melambaikan tangan, mengecup tangan saya dan melemparkan kecupan tangan ke udra untuk Asna , dia hanya mentapa saya kemudian mereka tak terlihat lagi.

Asna dan Mohammed bisa jadi sekian dari random people yang ditakdirkan untuk saya temui, ¬†tapi obrolan singkat kami benar-benar berkesan buat saya, saya bahkan masih ingat wajah mereka dengan mata bulat dan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka. Mereka tak takut pada orang asing seperti saya, seolah kami sudah saling mengenal dan pernah bertemu sebelumnya. betapa positifnya pikiran mereka. Saya senang setiap kali mereka memanggil saya “auntie”. Entah apakah mereka akan mengingat pertemuan kami, kelak ketika mereka dewasa, sungguh saya berdoa segala kebaikan untuk Asna & Mohammed.

Salaam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kosmetik untuk menyenangkan diri sendiri

Ditempat kerja yang lama saya sering disaranin boss buat dandan, minimal bedak & lipstick. Tapi saya paling males berdandan. Apalagi setelah makan siang dan cuci muka Ya udah kerja lagi aja, ga ada acara berbedak atau ber lipstick.

Ok, Saya memang dandan tiap berangkat keja, dandan saya minimal pake bedak dan lipstick tipis-tipis aja. Dulu justru rasanya ga pede kalau harus pake lipstick, jadi lipstick saya bisa awet bertahun-tahun.

Beda dengan sekarang-sekarang ini. Partner kerja saya ini bisa kelihatan segar sepanjang hari, warna bibirnya bisa berganti-ganti karena koleksi lipsticknya banyak.

Saya kira saya ga mau kelihatan lesu apalagi duduk disamping dia, jadi saya mulai pake lipstick aja dulu, usai makan siang termasuk cuci muka minimal saya pakai lipstick aja meski tanpa bedak, karena lebih cepat berlipstick dibanding ber-bedak, itu menurut saya ya.

Rasanya, partner kerja saya ini ngasih pengaruh positif ke saya. lha semakin kesini semakin suka milih-milih kosmetik. Saya paling suka nanya-nanya merk lipstick atau warna apa yang bagus, bedak , segala eye dari eyeliner eyepencil  eyeshadow macam-macamlah bahkan istilah-istilah atau kosakata per kosmetikan. Koleksi kosmetik saya jadi cukup banyak dibanding dahulu.

Apalagi tempat kerja saya dekat sekali dengan mall yang ibaratnya hanya guling-guling 2X nyampe lepas makan siang kami akan ke gerai-gerai kosmetik. Meski hanya sekedar melihat-lihat, oles-olesin lipstick di punggung tangan warna apa yang cocok dan bakal dibeli pas gajian bulan depan ūüėČ.

Jadi, jalan-jalan ke gerai kosmetik ini bikin kepala sedikit segar sih untuk lanjutin kerja lagi. kadang juga ga nunggu bulan depan apalagi kalau ada diskon tiba-tiba balik kantor bawa tentengan segala eyeliner eyepencil atau lagi-lagi lipstick ūüėä

Saya kira saya berdandan ini bukan sekedar to attract the opposite sex, tapi buat saya to please my self seneng aja kelihatan ¬†beda. My ‚úĆūüŹĹÔłŹ Cents.

Salaam.