Toilet

Ketika berada ditempat baru saya sering harap-harap cemas dengan kondisi toilet. Karena “panggilan alam” ini kan seringnya ga bisa ditahan ya, jadi kondisi menyelesaikan private bisnis (baca buang hajat) harus dilakukan di tempat yang layak & bersih.

Kalau lokasinya terlalu jauh & saya tau kondisi toiletnya ga bersih, biasanya saya bener2 musti ngatur makanan dan minuman yang saya konsumsi. Juga untuk penerbangan/ perjalanan jauh. sayangnya keadaan kayak gini bikin ga tenang, kadang malah kayak rada setress gitu.

Saya pernah ngalamin kondisi kebelet pipis tapi toiletnya.. ya allah… you dont wanna know deh. Ada saat ketika saya bisa mendadak ga pengen pipis.

Tapi pernah juga, pas saya dari Bromo dan kami keliling sekitar Bromo sampe ke arah semeru, waktu itu saya kebelet pipis. Dilokasi kayak gitu, gada perumahan penduduk, ada warung kecil tempat transit pendaki semeru, tapi ga punya toilet dan saya diarahkan ke satu tempat bentuknya gubuk reot yg lokasinya agak naik ke dataran tanah yg agak tinggian, kita (saya dan sampean) bisa melihat jalanan, danau dibawah dan pepohonan disekelilingnya. 

Di dalam “toilet” ada sumur, lantainya tanah dg potongan kayu2 yg berserakan, agak becek,  mungkin krn tumpahan orang2 yang ambil air sumur, airnya bening banget dan dingin, berdinding bambu yang banyak celah lobangnya, bagusnya tidak ada sampah berserakan disini. Mungkin memang ini toilet darurat.

Saya dah kuatir aja diintip orang. Tapi teman saya meyakinkan saya bahwa dia akan berjaga di depan pintu, dan mastiin gak akan ada yg ngintip dr lobang dinding, dlm hati semoga gak ada kamera tersembunyi. Selesai urusan teman saya nanya “lega?” Saya ngangguk, beneran lega deh bisa pipis. ke gunung dingin beser mulu, itu tdk menyenangkan apalagi kalo ga nemu proper toilet.

Cerita yang beda lagi, pas bertahun tahun lalu saya liburan bareng teman di satu pulau. Satu hari kami makan siang di satu restoran pinggir pantai, sebelum makanan tiba teman saya ke toilet begitu balik dengan sumringahnya bilang kamu musti lihat, toiletnya bagus lho Gak nunggu lama, saya tinggalin dia di meja dan meluncur ke toilet, dipintu masuk ada semacam lobby dengan meja yg diatasnya ada vas dengan rangkaian bunga segar. Didalam toiletnya pun ga kalah rapi bersih wangi yang beneran wangi bukan aroma toilet.

Sebut saja norak, tapi ya gimana ya.. sampeyan pasti sama lah dengan saya, kalo toilet bersih tu beneran bikin lega.

Yang di kangenin di masa pandemi

Selama masa pandemi ini banyak yang dikangenin, karena kan gerak terbatas dan musti lebih banyak di rumah “STAYhome” perintahnya, jadi ya gak kemana-mana kayak tahun lalu. Meskipun saya ga bisa benar-benar stayhome karena masih harus ke kantor untuk kerja. Jadi, yang masih bisa bekerja di rumah adalah privilege meski di rumah terus bosan ya. Saya ga berpetuah, ga bernasehat, semua orang memiliki kesulitan masing-masing.

Kangen ngelakuin hal yang sederhana, seperti ketemuan sama teman-teman, jalan-jalan ke pasar. Oops saya masih ke pasar sih jajan jahe dan lemon, tapi gak mau berlama-lama juga di pasar. Begitu dapat yang dibutuhin langsung balik.

Tiba-tiba kangen pantai. Selama masa pandemi saya keingat Belitung atau Belitong. Saya baru pertama kali ke belitong, tahun lalu. Selalu ingin ke pulau Sumatera alhamdulillah terwujud. Belitong punya kesan yang menyenangkan.

Meskipun trip singkat, tapi melihat hijau air pantai, suara ombak, kaki yang menyentuh pasir pantai, meskipun air pantai lengket dan sempat coba-coba snorkling tapi nyemplung ga sampe 5mnit karena tiba-tiba kaki saya kram, seafoods, suara mesin kapal memecah air laut ngomong pun harus sedikit teriak.

Lebaran tahun lalu saya mudik, dan sempat ke pantai di malang selatan. Karena di malang selatan berderet pantai-pantai bahkan ada pantai yang aman untuk berenang, saya penyuka pantai meski kerap kepanasan.

Pantai Tamban – Malang, menjelang sore dan mendung

Saya kangen naik kereta, kangen jalan di lorong kereta, kangen sekedar duduk di kantin gerbong ke-4 sekedar pesan bakso. Kangen bandara dengan aroma roti yang keluar dari oven juga aroma semerbak kopi, kangen lihat langit dan awan dari dalam pesawat. Dan tiba-tiba, i miss doing a long haul flight entah kemana tujuannya.

Kantin kereta gerbong 4
Bakso pesan dari kantin kereta

Aroma lebaran

Kue lebaran favorit sampeyan apa? Saya bisa nebak sebagian banyak dari sampeyan pasti suka nastar (ananastart) dan kastengel (kaastengel), orang2 yang saya kenal juga suka dengan nastar. Waktu kami kacil,setiap lebaran ibu selalu bikin nastar kami nyebutnya kue walet, tampaknya ibuk dulu juga tidak tau nama kuenya apa.

Kami sebut kue walet karena ibuk nyetaknya setengah lingkaran, gak bulat seperti kebanyakan, apalagi yg bulat kemudian diatasnya dikasih hiasan cengkeh seperti salah satu bude selalu bikin yang seperti itu, cantik kayak buah apel yg masih ada tangkainya. Tapi apapun bentuknya, nastar selalu jadi primadona kue lebaran.

Nastar di salah satu supermarket

Tempo hari, waktu lagi mandi karena harus bersiap pergi kerja tercium aroma manis asam segar wangi dari kayu manis… aroma nanas yang di selai, tetangga lagi bikin kue nih, yakin deh saya.

Duh ..aroma manis gula dan khas nanas bikin ingat tiap kali mo bikin nastar, dan sekali lagi yakin tetangga lagi bikin kue nastar. Untung masih pagi, masih ada sisa kenyang makan sahur tadi. Tapi aromanya.. jadi ingat rumah.

Aroma selai nanas dan kue-kue yang dipanggang di oven, pertanda tampaknya memang lebaran tinggal sebentar lagi

Cerita bingkisan

Saya sering pulang kerja menggunakan moda Ratangga (populer dengan MRT), ditengah anjuran work from home saya memang masih harus berangkat kekantor.

Pernah satu hari, sepulang kerja saat masih awal di galakkan social distancing sebelum masa dikeluarkannya peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (psbb) saya dihentikan oleh mas-mas yang mengenakan rompi seragam, bertopi dan mengenakan masker di stasiun Ratangga, dia menyodorkan saya sebuah bingkisan.

Sebuah pouch berisi masker kesehatan, sekaleng susu, Vitamin-C hisap dan cairan disinfectan. Saya pikir, lumayan juga ini. Apalagi di masa awal, saya tidak punya persiapan masker sama sekali, bahkan masker kain pun saya tak punya.

Bingkisan yang terima dari sekelompok relawan, di stasiun ratangga.

Semoga pandemi ini segera berlalu.

Salaam.

*masapandemicovid-19

Cerita malas di bulan maret

Sejak wabah virus corona, saya memang lebih milih dirumah saja saat weekend. Padahal biasanya, setiap akhir minggu saya jarang dirumah. Apalagi di hari sabtu saya milih pergi makan siang di luar, beberapa bulan lalu sempat sering ke bioskop buat nonton film, atau kerumah bulek (=tante).

Dimasa wabah virus kayak sekarang, saya ga boleh egois keluyuran, harus jaga kondisi agar tetap fit dan less stress. Apalagi saya ga bisa pula bantu paramedis jadi relawan, jadi yang harus dilakukan adalah berupaya agar tidak terkena virus ini inshaa allah, saya ga boleh nambahin beban yang berada di garis depan mengobati dan menghalau virus ini. Inshaa allah.

Meskipun dirumah saja masih saja malas baca buku, masih males nambahin tulisan di blog yg terbengkalai padahal keinginannya ada dan di draft ada beberapa, masih males belajar menyulam padahal stoknya banyak, apalagi setrika ya allah males banget saya setrika, dan masih males lainnya ..

Berapa bulan lalu saya nonton Love is Blind di Netflix, saya kira film ternyata reality show semacam kontak jodoh. Teman saya ga percaya reality show macam ini. Tapi apakah itu sekedar bo’ongan? ga mau ambil pusing, saya lagi cari hiburan. lha koq malah sempat stalking akun instagram pelakon love is Blind.

Berapa hari lalu diingetin Netflix serial pilihan saya dah mulai tayang, jadi sejak hari sabtu malam saya mulai nonton serial “Self made-inspired by the life of madam C.J Walker” .

Sampai saat saya dirumah saja sambil ngetak-ngetik di blog ini, saya dah ada di episode 2. Masih enjoy nonton, rasanya pengen rebahan sambil nonton serial ini sampai habis. Di luar toh hujan. Memang baiknya di rumah saja .

Bytheway, buat kalian yang tidak bisa selalu di rumah saja selama masa yang ga menentu akibat virus corona ini, karena musti bekerja atau apapun yg positif, kita sama-sama berdoa semoga wabah ini segera berlalu dan kita diberi kesehatan.

Little Woman

Bukan review.

Akhirnya, setelah menunggu tayang, film ini muncul juga di bioskop Indonesia. Beneran saya tunggu-tunggu banget film ini yang dah banyak dapat pujian dengan mengantongi 6 nominasi Oscar yg diadain pd 09.02.’20 waktu USA. Akhirnya nge-gol in 1 Oscar untuk best costume. Laura Dern dapat Oscar dari perannya di film yang lain.

Saya cukup puas dengan film Greta Gerwig, saya ga yakin pernah nonton filmnya selain Little woman ini. Alurnya yang maju-mundur, warna-warni di film, kostum, casts nya. duh, sambil nonton sambil saya mengingat halaman perhalaman novelnya yang saya baca.

Versi 2019 dg sutradara Ms. Gerwig, melihat karakter anak2 March dan juga tetangga mereka Laurie ini rasanya lebih hidup di fim ini.

Nonton film ini saya jadi melihat diri saya sendiri, dengan 2 kakak perempuan, kami memang ga se-smart March bersaudara, tak bisa berkata-kata pujian romantis satu sama lain seperti mereka, tak se ambisius&gigih spt mereka tapi intinya, saya yakin (kebanyakan) kakak-beradik akan melakukan apapun yang terbaik untuk satu sama lainnya.

I love how Ms. Alcott encourage woman in this novel, and Gerwig put this to such a beautiful film thanks to her. Dibanding novelnya, nonton filmnya rasanya bikin saya lebih terharu, lupa bawa tissue terpaksa pake ujung kerudung buat ngelap… haru.

“I intend to make my own way in the world – Jo March” ~Little Woman, Louisa May Alcott~

Hadiah Giveaway pertama

Akhirnya, setelah membaca buku Little Woman karya Louisa May Alcot hasil pemberian kawan baik, lega bisa menonton filmnya. Sudah saya tunggu-tunggu, dari akhir desember yang kabarnya akan serentak tayang, jadi sejak akhir desember 19 hingga januari saya pantau kapan akan muncul di bioskop indonesia?

Sempat mengira bahwa saya sudah ketinggalan terlupa ga nonton film ini. Lega karena, ternyata baru tayang di Indonesia bulan Februari ini, tampaknya desember 19 itu hanya serentak di USa saja. Saya sempat puasa IG niatnya puasa 1bulan, tapi sesekali sempat cheated, balik ke IG sekedar lihat-lihat kehidupan Instagram. Melihat satu akun yg ngasih giveaway tiket gratis premiere film ini di plaza Indonesia.

Saya yang ga pernah dapat gratisan mencoba peruntungan, syaratnya selain follow akunnya (saya dah follow akun ini krn akun buku buku), mention 3 teman. So i did

Dan lupa dengan percobaan peruntungan giveaway. Sampai akhirnya setelah 1 bulan, saya akses lagi ke IG dan muncul pesan pemberitahuan bahwa “lewat dari 24jam hadiah diberikan ke yang lain”.

Kecewa gimana gitu, ternyata tampaknya saya dapat tiket giveaway nonton premiere little Woman di PI tapi karena saya ga konfirm, tiket saya hangus diberikan ke yg lain. Padahal ini bakal jadi hadiah giveaway pertama, dan nonton film premiere pertama kali pula.

Tapi kan saya tetep musti nonton, harus, karena saya sudah baca bukunya. Akhirnya, pergi ke bioskop dan beli tiket sendiri nonton little Woman.

bukan hadiah giveaway, beli tiket sendiri, nonton film yang sudah ditunggu-tunggu.

Tanya siapa

Saya terbiasa berjalan-jalan sendiri melakukan banyak hal sendiri namun hari itu saya lupa bahwa saya tidak sedang dinegeri sendiri, saya sering terpisah dari karib saya, dan itu sempat membuatnya kuatir.

Satu hari, ketika kami kesebuah kota bernama Dramen-Norwegia, kami mampir kepusat perbelanjaan/ mall ukurannya kecil aja mall ini. Saya tertarik mampir ke satu toko CD dan ketika keluar toko saya tidak mendapati teman saya, celingak-celinguk saya berjalan ke bangku duduk depan pintu masuk kami sempat duduk disitu, dan saya melihatnya berjalan kearah saya dan begitu tahu saya berdiri ditempat pertama kami masuk dia terlihat lega meski ada sisa mukanya terlihat pucat.

“Ok ru! kalo kamu kepisah dari gue, mo ngapain?” saya tersenyum sebenarnya ada 3 jawaban di otak saya, satu jawaban tidak sempat keluar dari mulut saya. Ning saya dulu pernah wanti-wanti 

Saya bilang saya akan kembali ketempat pertama kita datang, kawan baik saya mendebat bagaimana kembalinya? karena saya tidak tahu arah saya payah dengan navigasi, sering bingung dengan jalanan.  Jawaban ke dua adalah saya akan ke kantor polisi dan mengatakan bahwa saya tersesat tidak tahu cara kembali ” Ru! polisi jauh dari sini dan HP mu gak ada pulsa cukup untuk sms aku ngabarin keberadaan kamu” iya hape saya tidak ada pulsa padahal saya isi dengan nilai cukup banyak sebelum saya tiba disini, cukup untuk selama perjalanan saya dan menurut customer service incoming sms tidatk akan mengurangi pulsa nyatanya nilai pulsa saya berkurang menjadi sangat sedikit padahal tdk pernah saya gunakan untuk apapun, saya juga hanya memiliki nilai Euro yang tidak seberapa dan tidak memiliki mata uang setempat karena Norwegia lebih sering bertransaksi dengan menggunakan mata uang NOK (Norwegian kroner), terlebih cuaca dingin menusuk kulit tropis saya salju turun dengan lebat.

Kenapa polisi? Alasan ini adalah yang selalu sering ada di otak saya, kakak saya (ohhh dia sangat berpengaruh dalam hidup saya hahahaha) berpesan “kalau mau tanya apa-apa ketika kamu nggak tau dimana kamu berada tanya polisi aja jangan yang lain”, ternyata itu seharusnya mungkin hanya berlaku diwilayah Indonesia.

” kalau aku jadi elo ru, aku akan datang ke toko terdekat dan pinjam telpon atau minta tolong sms-in ke no.lu!” itu yang ada di otak saya juga : P,  sayangnya itu opsi ketiga, seharusnya saya tidak kuatir dengan orang-orang disini,  disini saya memiliki pengalaman bahwa seolah semua  saling menyapa “hallo” atau “hai” sekalipun tidak saling mengenal, setidaknya itu yang terjadi pada saya.

Saya tahu kawan karib saya ini sangat mengkhawatirkan saya, tidak seharusnya saya tiba-tiba menghilang seenaknya, dan saya sudah cukup sering merepotkannya.

Nggak mau tersesat di hutan belantara ketuk-ketuk kayu

-RU-

Bercerita lagi

Saya tidak menyebut diri saya blogger, pertama karena saya tidak piawai menulis, kedua karena saya angot-angotan (baca malas) ga sering-sering posting. Bagian kali ini saya rasa saya akan curhat.

Curhat tentang dilema menulis di blog. Tentang saya sering takut tulisan saya dicecar pembaca (mengamati dunia sosialmedia kadang komentar netizen bisa jadi ganas 😊), saya takut akan lebih banyak mengeluhkan ttg diri saya di blog, takut terlalu alay, takut..takut.. takut.. banyak takutnya.

Tapi kalau dipikir-pikir, mustinya ga perlu takut toh pembaca akan memilih sendiri blog mana dan blog siapa yang ingin mereka baca. Saya akan tetap melanjutkan tulisan receh sebagai aktifitas rekreasi.

Kemarin demotivasi nya terlalu lama, mungkin harus belajar konsisten lagi.

Saya akan bercerita lagi.

Harap Maklum

Sejak memakai kacamata 15tahun lalu, sudah banyak kejadian yang sampai sekarang bikin saya ketawa kalau ingat.

Ini hanya satu diantaranya,

Saya kehilangan kacamata di beberapa tempat saya kira dah pernah saya ceritakan.

Pernah, sepulang kantor ketika sedang menunggu bus yang tidak sebentar itu saya dan seorang kawan tidak mau menggunakan kacamata kami. Kalau sampeyan pemakai kacamata mungkin anda merasakan yang sama dengan kami bahwa pake kacamata tu capek.

Jadi, karena melihat tanpa kacamata itulah sudah 2X bus yang mustinya kami tumpangi lewat begitu saja. Baru sadar ketika melihat belakang bus bernomor tujuan kami. Ngejar bus pun gak mungkin.

Menurut pengakuan teman dan kenalan, ketika menyapa saya yang tanpa kacamata di jalanan respon saya hanya terdiam, mungkin saya terdiam karena mencoba mencari arah suara yang manggil. Kadang saya hanya berhenti sebentar kemudian berlalu begitu saja.

Sering ditanya seperti apa objek yang saya lihat tanpa kacamata?

Saya kira itu bervariasi, tergantung ukuran ples-mines kacamata yang kita pakai. Bisa jadi penampakan objeknya tampak seperti foto yang tak fokus dibawah ini, bisa jadi lebih buram.

Jadi harap maklum kalau menjumpai orang seperti kami 😊

1571401788235