Indonesia…Indonesia!!

Jadi saya sepakat meski ga tahu besaran prosentasenya bahwa, Indonesia menyumbang jamaah terbesar haji & umroh di Negara kerajaan Saudi Arabia. Apalagi negeri ini menjadi tujuan bekerja bagi para pahlawan devisa Indonesia. Melihat interaksi penjual lokal yang menggunakan bhs Indonesia dengan pembeli  Indonesia jamak tau bahwa populerlah orang Indonesia ini.

Atau, pernah ketika mampir di satu toko penjual bertanya dari Indonesia bagian mana kami ini? Belum sempat dijawab mereka sudah menyebut “Bandung!” sambil senyum-senyum, kamipun menggoda dengan kata “Bogor! Pernah ke bogor?” justru kami kembali bertanya, penjaga toko (yang mungkin sekaligus pemilik) senyum-senyum, hehe Bogor sangat populer memang bagi turis dari Arab, jadi tak perlu berpanjang-panjang disini 😀.

Atau juga pertemuan saya dg seorang ibu pakistan yang langsung menembak asal negara saya, ceritanya bisa dibaca  disini

Sekali pernah ketika saya berjalan menuju penginapan sepulang dari masjid, segerombolan bocah laki-laki usia sekolah dasar berjalan didepan saya sambil menunjuk girang “indonesia.. Indonesia…indonesia” seolah ingin berkata Indonesia lagi Indonesia.

Belum lagi ketika saya berjalan-jalan di pasar, seorang bocah yang mendorong kursi roda dengan anak kecil laki-laki yang lebih muda duduk diatasnya menghentikan saya tiba-tiba “Indonesia? Malaysia?” menodong saya dengan pertanyaan pilihan, saya bilang Indonesia, anak itu kemudian berlari menjauh sambil mendorong kursi roda sembari berteriak “In-donesia..In-donesia..In-donesia” hingga saya tak melihat dan hanya mendengar teriakannya yang semakin jauh.

Lucu saja sekaligus senang melihat polah orang dewasa hingga bocah-bocah ini.

Salaam 🇲🇨

 

 

Advertisements

Asna & Mohammed

Melihat ada celah sedikit dibarisan shaff belakang saya bergegas sebelum ditempati orang lain, menjelang azdan begini sulit mendaptkan shaff dan saya nyaris terlambat tiba di masjid. Usai menunaikan 2 rakaat tahiyatal masjid, maunya saya pake kacamata kuda saja maksudnya tidak memperdulikan siapapun disamping kanan kiri saya, tapi saya selalu merasa ada yang memperhatikan saya.

Saya menoleh ke samping kanan saya. 2 pasang mata bulat memperhatikan saya sambil menyunggingkan senyum, bocah laki-laki dan perempuan, saya taksir usia mereka tidak terpaut jauh masing-masing 5& 4 th saya gemas melihat mereka . “assalamualaikum” sapa saya, gadis kecil mengangguk dan menguggumam.

Saya merogoh saku tas, syukurlah ada sekotak kecil permen mint strawberry yang sering saya bawa setiap kali bepergian mengusir sekedar lelah yang bikin saya kerap kali menguap.

Mereka masih menatap saya dengan senyum lebar di bibir, saya menyodorkan kotak permen dan diterimanya dengan senang .Bibir mereka terus menerus tersenyum, si gadis kecil membuka kotak permen itu dan membaginya ke bocah laki-laki.

Saya kembali menyibukkan diri dengan berdiam, tapi 2 pasang mata masih saja memperhatikan saya. Tak tahan akhirnya saya menyebut nama saya ” iam..” saya meletakkan tangan saya di dada saya harap mereka mengerti meski ragu tanpa bermaksud meremehkan sebenarnya saya  ragu mereka paham bhs inggris, tampaknya mereka terlihat dari negerinya alm. Benazir Bhutto, gadis kecil itu membalas “iam Asna and this is my brother Mohammed”,iam mohammed” timpal bocah laki-laki yang saya kira lebih muda.

Maafkan saya karena keterkejutan saya dan sebenarnya saya senang mereka bisa bercakap bhs inggris “wow you speak english?” Asna mengangguk penuh semangat dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka “my teachers in school speak english so i speak english too” Mohammed menimpal hal yang sama “no you dont go to school Mohammed ” seru Asna, “Mohammed doesnt speak English he speaks Urdu” tambahnya setengah berbisik ke saya, saya tersenyum “you’ll go to school when you grow up just like Asna, you’re a smart boy” kata saya, Mohammed tampak tersipu.

Konsentrasi dan tujuan saya ke masjid teralihkan kehadiran mereka, saya tau seharusnya saya tidak banyak bicara di masjid ini, tapi dua bocah ini benar-benar mengalihkan perhatian saya, saya punya 2 pilihan mengabaikan mereka atau meladeni ocehan dan cerita mereka?, esok sayapun tak tahu apakah akan bertemu mereka lagi diantara milliaran manusia disini. Jadi, saya putuskan mendengarkan segala tanya cerita dan celoteh mereka, kami bicara pelan-pelan agar tidak mengganggu jamah lainnya.

Azdan sudah berkumandang, kami berdiri shaff kami cukup sempit Asna menguasai tempat saya sehingga beberapa kali saya tidak bisa bersujud hanya duduk dan membungkukkan badan pengganti sujud. Saya sama sekali tidak keberatan justru seusia mereka Musti diajarkan beribadah, meskipun Asna sedang tdk mengenakan penutup kepala hanya berkaos lengan pendek celana panjang denim, Asna dan Mohammamed mengikuti gerakan sholat.

Asna dan Mohammed tampak senang dengan pemberian permen dari saya, saya sapa ibu mereka yang duduk disamping asna saya sampaikan bahwa saya memberi permen dan sudah sampaikan kepada mereka bahwa cukup untuk hari ini permennya besok dimakan lagi, ibunya mengangguk kemudian melanjutkan membaca Al-Qur’an, hal yang seharusnya saya lakukan juga. Agak iri juga sebenarnya, saya ingin melakukan hal yang sama seperti yg ibu mereka lakukan, tapi tampaknya 2 bocah ini ingin ada orang dewasa yang mengajak mereka mengobrol.

Asna mulai berceloteh ” we have a little brother name bunny“, saya mengerutkan dahi , dengan mata lebar dan senyum manisnya dia mengngguk -angguk “yess, bunny just like rabbit”  seolah membaca keheranan saya “he must be cute” kata saya, mereka berdua mengangguk cepat. Asna lebih banyak mendominasi percakapan dia bercerita tentang bunny si adik kecil tentang ayah mereka yang tinggi “but im small” kata Mohammed terduduk lesu, “its ok because you’re still a little, when you grow up you ganna be tall like your daddy even taller” saya mengusap kepalanya. Mohammed, seperti biasa dia tersipu, kemudian mengeluarkan uang satu rupee dan memamerkan kepada saya dengan diletakkan di dahinya “look!  i have one rupee”, saya pura-pura terkejut “wow thats alot” Mohammed tersenyum, ibunya manis, anak-anaknya cantik dan tampan bapaknyakayaknyagantengjugaini

“auntie! why you look sad?” tanya Asna tiba-tiba, saya menghentikan zikir “no, im not sad. im happy to be here, im happy to meet you and Mohammed”, mereka tersenyum saya tidak tahu kenapa Asna melihat saya tampak sedih? Mungkin wajahnya saya tampak kelelahan saja “where are you from auntie?” tanya asna menyelidik sambil memegang lengan saya, Indonesia jawab saya ” is it far?”, saya mengangguk “yes its quiet far from here. listen! when you guys grow up youll go to Indonesia and see how Indonesia is as beautiful as Pakistan” kata saya berpromosi, Asna tersenyum mengangguk diikuti Moahmmad yang tampak lebih sering mengikuti apapun yang dilakukan Asna. Saya mengusap kepala mereka dan mendoakan segala kebaikan untuk mereka, Asna dan Mohammed tampak senang sekali dipuji dan diusap kepalanya, mereka tak tampak takut ataupun keberatan.

“where is wash room auntie?” tiba-tiba Mohammed mengajukan pertanyaan, saya khawatir dia ingin pipis jadi saya mengulang tanya “bathroom?” “no..washroom” tanya Mohammed. Toilet jauh dari tempat ini, saya tidak bisa mengantarkan anak orang ke tempat umum. Asna masih berceloteh dengan saya ketika Mohammed menuju ibunya, kemudian mereka bertiga berbicara dalam Urdu “its Ok mommy you can go to washroom with Mohammed, i stay” ucap Asna Menoleh sekilas kemudian menatap saya.

Saya tidak tau apa yang mereka perbincangkan, tiba-tiba ibunya merapi-rapikan sajadah, berdiri dan menggamit tangan kedua anaknya, sebelum pergi Asna menatap saya dia tak tampak ceria tak ada senyum diwajahnya, mereka tak sempat berpamitan pada saya tapi ahh siapa saya? hanya orang asing, random people yang mereka temui.  Saya tersenyum melambaikan tangan, mengecup tangan saya dan melemparkan kecupan tangan ke udra untuk Asna , dia hanya mentapa saya kemudian mereka tak terlihat lagi.

Asna dan Mohammed bisa jadi sekian dari random people yang ditakdirkan untuk saya temui,  tapi obrolan singkat kami benar-benar berkesan buat saya, saya bahkan masih ingat wajah mereka dengan mata bulat dan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka. Mereka tak takut pada orang asing seperti saya, seolah kami sudah saling mengenal dan pernah bertemu sebelumnya. betapa positifnya pikiran mereka. Saya senang setiap kali mereka memanggil saya “auntie”. Entah apakah mereka akan mengingat pertemuan kami, kelak ketika mereka dewasa, sungguh saya berdoa segala kebaikan untuk Asna & Mohammed.

Salaam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kosmetik untuk menyenangkan diri sendiri

Ditempat kerja yang lama saya sering disaranin boss buat dandan, minimal bedak & lipstick. Tapi saya paling males berdandan. Apalagi setelah makan siang dan cuci muka Ya udah kerja lagi aja, ga ada acara berbedak atau ber lipstick.

Ok, Saya memang dandan tiap berangkat keja, dandan saya minimal pake bedak dan lipstick tipis-tipis aja. Dulu justru rasanya ga pede kalau harus pake lipstick, jadi lipstick saya bisa awet bertahun-tahun.

Beda dengan sekarang-sekarang ini. Partner kerja saya ini bisa kelihatan segar sepanjang hari, warna bibirnya bisa berganti-ganti karena koleksi lipsticknya banyak.

Saya kira saya ga mau kelihatan lesu apalagi duduk disamping dia, jadi saya mulai pake lipstick aja dulu, usai makan siang termasuk cuci muka minimal saya pakai lipstick aja meski tanpa bedak, karena lebih cepat berlipstick dibanding ber-bedak, itu menurut saya ya.

Rasanya, partner kerja saya ini ngasih pengaruh positif ke saya. lha semakin kesini semakin suka milih-milih kosmetik. Saya paling suka nanya-nanya merk lipstick atau warna apa yang bagus, bedak , segala eye dari eyeliner eyepencil  eyeshadow macam-macamlah bahkan istilah-istilah atau kosakata per kosmetikan. Koleksi kosmetik saya jadi cukup banyak dibanding dahulu.

Apalagi tempat kerja saya dekat sekali dengan mall yang ibaratnya hanya guling-guling 2X nyampe lepas makan siang kami akan ke gerai-gerai kosmetik. Meski hanya sekedar melihat-lihat, oles-olesin lipstick di punggung tangan warna apa yang cocok dan bakal dibeli pas gajian bulan depan 😉.

Jadi, jalan-jalan ke gerai kosmetik ini bikin kepala sedikit segar sih untuk lanjutin kerja lagi. kadang juga ga nunggu bulan depan apalagi kalau ada diskon tiba-tiba balik kantor bawa tentengan segala eyeliner eyepencil atau lagi-lagi lipstick 😊

Saya kira saya berdandan ini bukan sekedar to attract the opposite sex, tapi buat saya to please my self seneng aja kelihatan  beda. My ✌🏽️ Cents.

Salaam.

 

 

 

 

 

 

Eyes to see

Sebagai pengguna kacamata, setiap bepergian saya membawa kacamata dan kontak lensa dan kacamata. Taulah ya fungsinya, jika yang satu entah dimana masih bisa menggunakan  cadangan yang lainnya.

Tapi urusan alat bantu melihat ini saya punya pengalaman yang buat saya menyedihkan. Mata saya mudah sekali “banjir”, waktu itu saya dan kawan baik menuju bandara schippol. Baru beberapa menit  diatas pesawat dari Oslo, dan tiba-tiba satu mata bisa melihat jelas satu mata lainnya buram, sepertinya saya ga sadar kontak lensa saya jatuh. Saya turun dari pesawat dg satu konyak lensa di mata tak apalah.

Tidak berhenti disitu, dari Belanda kami menuju Paris long story short karena kehilangan kontak lensa saya memakai kacamata yang ndilalh koq juga hilang. Saya memaksimalkan penglihatan yang terbatas.

Urusan kacamata saat bepergian sepertinya saya benar-benar harus hati-hati. Tepat hari saat keberangkatan saya ke   Saudi Saya kehilangan kacamata, sepertinya terjatuh tanpa saya sadari.

Saya sedikit panik, saya menghubungi ibu saya sambil pamit saya ceritakan bahwa saya kehilangan kacamata tentu saja ibu saya lebih panik, bagaimana saya akan bisa melihat jelas?

Saya tidak membawa softlens ataupun kacamata cadangan kecuali sunglasses dengan minus yang ukurannya lebih kecil dibanding yang saya pakai.

Akhirnya cuma bisa pasrah, what will be will be Bismillah saya inshaa allah tidak ada apa-apa.  Pernah ketika di pasar, seorang ibu pedagang ketika melihat saya yang memperhatikan dagangannya dengan jarak terlalu dekat memperhatikan saya, saya bilang sedikit dg bhs isyarat krn saya tidak bisa bahasa arab “can not see” sambil menutup mata dengan tangan, si ibu menyarankan saya meneteskan zam-zam kemata saya, and i did meskipun saya tidak tahu apakah akan berhasil menurunkan minus saya atau tidak but i did.

Ah.. benar saja, saya bertemu orang-orang yang membantu saya, membantu saya menunjukkan apa saja menemani saya berjalan ke dan dari masjid atau kemanapun. Saya kira ini bagian dari rizki saya.

Kalau kata sepupu saya “dek! Kacamata aja jatuh mulu’ kapan jatuh hatinya?”                                     Eh 🙈🙊

Salaam

 

 

 

 

 

” Ami!!”

Rasanya memang Saya tahu sepasang mata sering memperhatikan saya, tapi saya abai, saya kira nanti sajalah saya sapa usai urusan saya “merayuNYA”. Ketika, saya kira saya sudah cukup urusan “rayu-meray”  saya menoleh kekiri, disamping saya duduk seorang nenek yang memperhatikan saya, saya memberi senyum belum sempat mengucap salam ketika si nenek menebak “Indonesia!” serunya, hebat juga ini nenek pikir saya, saya tidak menggunakan tanda pengenal yang menunjukkan kewarga negaraan saya, saya mengangguk. Saya bilang “Pakistan!” si nenek tersenyum mengangguk, tentu saja terlihat sangat Pakistan bukan saja dari fisiknya namun juga penampilannya mengenakan shalwar kameez. “islamabad?” tebak saya, padahal maksud saya ingin bertanya Pakistan mana? karena tak bisa urdu asal nanya aja, saya toh taunya Islamabad rawalpindi lahore dan hyderabad kota0kota yang saya dengar ketika membaca/ menonton siaran berita, si nenek menggeleng dan menyebut nama yang saya tak jelas mendengarnya, mungkin nama daerah atau kota,saya hanya ber “ohh” sok tau.

Nenek yang mengenakan bshalwar kameez itu memperhatikan saya, “ami!” katanya, saya menggeleng, “ami!” katanya lagi, saya bingung harus berkata apa? saya tak paham maksudnya, urdu saya tak bisa, arab juga tak bisa, “aa-mi!” tegasnya, sambil dia meletakkan tangannya di dada saya (dada- chest), saya menebak mungkin maksudnya “nama!” siapa namamu?!, mungkin begitu, jadi saya sebut nama saya, dia mengangguk dan tersenyum sambil masih mengamati saya yang entah apa di dalam pikirannya, mungkin beliau berpikir “ahh akhirnya ketemu putri Indonesia”.

Rupanya nenek tidak sendiri, disampingnya ada seorang nenek lagi yang juga mengenakan  shalwar khameez  sedang duduk selonjor memijit-mijit kakinya, saya serahakan obat cair penghangat yang saya bawa dari rumah. Saya ajari cara membuka, dan dimana harus mengoleskan obat cair itu. Dengan gerakan tangan saya menunjuk mata mulut dan daerah hidung bagian dalam “NO!”, maksudnya daerah-daerah yang saya sebut tidak boleh di oles. Kening pelipis perut dada dan mungkin kaki boleh, naasnya si nenek sebelah saya sempat mengoleskannya di bawah mata buru-buru tangannya saya tarik dan bilang “NO” dan mengulang penjelasan saya, entah beliau mengerti atau tidak.

Kemudian, diserahkannya obat cair itu ketemannya yang tadi memiit-mijit kakinya, si nenek lain mengoleskan ke dada dan kakinya. kemudian mereka menghirup aroma obat cair penghangat, mereka tersenyum. obatpenghangat ****C*** ini memang favorit saya karena aromanya juga segar.

Saya yakin, setiap orang yang kita jumpai sudah ditakdirkan Allahswt untuk kita temui, untuk diambil pelajarannya. Pertemuan saya dengan nenek Pakistan mungkin untuk memberikan pelajaran untuk saya, atau sekedar mengingatkan “hey kamu bawa obat, sudah janji kamu akan bagi dengan orang lain yang membutuhkan”, i dont know, hanya Allahswt yang tahu.

Salaam

 

“Yemen!”

“Do you believe in coincidence?”

Ini takjub saya yang lainnya. Sebenarnya, saya hanya menghubung-hubungkan ataukah ini takdir yang hikmahnya adalah saya diminta untuk berpikir karenaselamainiseringnggakmikir ? saya tidak tahu.

Sebelum berangkat, feed berita Instagram saya berkali-kali memposting pemberitaan tentang Yaman, yang beneran ini bikin saya sedih sekali. Konflik di Yaman ini belum juga reda, ga taulah kapan ini akan selesai, kelaparan dan ancaman malnutrisi bagaiman generasi Yaman selanjutnya jika saat ini mereka terancam dengan masalah kesehatan karena konflik yang tak juga mereda?, atau trauma konflik yang diderita?. Perihal konflik Yaman banyak tersebar di google silahkan pilih sendiri mau baca yang mana. Jika dilihat di peta, secara geografis Yaman memang berbatasan langsung dengan Saudi Arabia juga Oman.

Saya sedang berjalan-jalan di malam hari sepulang Isha, melihat keramaian pasar dekat masjid ketika saya mampir  ke sebuah lapak baju-baju abaya yang dijaga seorang pemuda saya taksir usianya bahkan belum 16 tahun, rambut keriting dengn wajah khas arab, tubuhnya yang cukup tinggi meski tampak kecil tapi inshaa allah sehat.

Gerangan apa yang mebuatnya disini? seharusnya di jam ini dia belajar, apakah dia bersekolah? atau mungkin dia sekolahnya pagi, sehingga sore hingga malam dia bekerja? pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi otak saya.

“Indonesia!” tebaknya riang, saya membalas senyumnya dan mengangguk “iya Indonesia”. “I love Indonesia” serunya sambilmengecup tangannya dan melemparkannya ke udara. saya agak geli dengan tingkahnya, saya pikir bisa aja ini bocah menarik pembeli, atau mungkin memang dia benar menyukai Indonesia karena konon jamaah Indonesia terkenal Royal suka belanja. pun begitu rasanya saya ikut bangga. “im from Hadramawt” kening saya berkerut “yemen”, “Yaman!” ulangnya sambil menepuk dada bangga.

Saya yang sebelumnya membayangkan segala kejadian di yaman, kemudian bertemu pemuda Yaman, what a coincidence. Sayangnya kami tidak banyak bercakap karena kendala bahasa, dia bisa mengucapkan angka-angka dalama bahasa Indonesia atau kata-kata umum bahasa Indonesia untuk bertransaksi.

Sungguh saya berharap konflik di timur tengah segera usai.

 

Salaam.

catatan: peta diambil dari ezilon.com

 

 

Assalamualaikum

Peace be upon you – Semoga kesejahteraan dan rahmat Allahswt atas kamu

“Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”

Jadi salam yang digunakan umat Islam ini adalah do’a, sama halnya ketika menjawab salam adalah mendoakan kembali. Mungkin sama halnya dengan “salam” dari pemilik kepercayaan lainnya yang juga merupakan ungkapan do’a.

Jujur, dulu kadang saya rasanya enggan untuk mengucapkan salam “assalamualaikum” bahkan ke sesama Islam, kecuali ketika kami berkunjung kerumah mengetuk pintu sambil mengucap salam agar pemilik rumah membuka pintu. Dulu, saya lebih nyaman bersapa “hey!” “halo” atau tanpa ber-salam sama sekali ketika bertemu langsung atau berpapasan dijalan dengan teman atau kerabat. kenapa enggan? entahlah, mungkin “hey” dan “halo” lebih pendek mengucapkannya, mungkin terkesan informal jadi lebih santai saja.

Hal pertama yang membuat saya takjub ketika tiba di bandara jeddah, dan selanjutnya membuat kebiasaan saya berubah adalah, beginiceritanya

Kami tiba dibandara King Abdul Aziz- Jeddah airport tengah malam untuk selanjutnya kami akan melanjutkan perjalanan menuju kota Madinah. Saya sedang menunggu seorang ibu yang duduknya ketika di dalam pesawat adalah di sebrang lorong kursi saya, si Ibu masih antri keluar dari pintu bandara sementara saya berdiri agak menjauh dari pintu keluar.  Seorang perempuan muda yang berjalan bersama (saya kira orangtuanya) seorang bapak dan ibu berumur, si Ibu duduk dikursi rodanya yang didorong oleh bapak ” assalamualaikum sister” sapanya memberi salam sambil berlalu.

“Assalamualaikum sister!” ini adalah moment takjub pertama saya ketika tiba di tanah kerajaan saudi Arabia. Berturut-turut dimana saja di lift penginapan, dijalanan, dimanapun berpapasan dengan siapapun saya menerima salam “Assalamualaikum”, semua saling bertukar dan menjawab salam, artinya semua saling mendoakan. Saya takjub, iya saya memang senorak itu. Tapi dari situ saya mulai berubah, saya harap saya tidak lupa untuk mengucapkan salam dengan senyum dan semangat tulus mendoakan kesejahteraan dan rahmat allah untuk mereka yang saya jumpai.

Nanti saya lanjutkan lagi pengalaman saya tentang ber salam.

Assalamualaikum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Pulang ke rumah”

Untuk sebagian muslim Indonesia atau juga sebagian muslim seluruh dunia kota Madinah & Makkah atau tanah haraam (selanjutnya saya sebut tanah haraam, sacred place and land) adalah rumah. Meskipun pemegang passport cokelat (khusus haji) atau hijau yang juga digunakan untuk umroh di tanah haraam yang terletak di Saudi Arabia bukanlah luar negeri, meskipun tidak terlahir di kota ini dan baru pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini tanah haramaa tidaklah terlalu asing.

Saya rasa tidak asing, karena sebagai muslim kami punya ikatan emosional dengan negeri ini khususnya Madinah dan Makkah, tempat bagi kebanyakan muslim ingin berkunjung dan menjalankan ibadah seperti yang diperintahkan, “bagi yang mampu”.

Seperti saya sempat menggoda mbahputri (=nenek) sepulang berhaji diusianya yang sudah senja “eciyee mbah dah pernah keluarnegeri”, mbah menggeleng menurutnya dia belum pernah keluarnegeri “itu cuma Saudi ” katanya.

Banyak cerita pengalaman setiap orang yang berbeda-beda, yang membuat sebagian orang was-was tapi sebagian lainnya berangkat saja mengorbankan apapun yang mereka punya demi bisa “pulang kerumah”. Pulang kerumah bertemu handai taulan dari seluruh penjuru dunia, entah apapun nanti yang akan terjadi di tanah haraam semua melepas rindu pada yang MAHA KUASA Allahswt, menmbawa segenap syukur dan mengharap segala kebaikan.

.

Salaam

 

 

Utak-atik

Masih bingung dengan rumah baru, ibaratnya nyusunin ruang-ruang untuk naruh barang apa mau diletakkan dimana, sudah bikin ruangannya tapi mo balik ke ruangan yang dibikin buat naruh barang-barang sesuai tempatnya…. kayaknya saya tersesat dan sampai sekarang masih ga tau bagaimana balik keruangan itu.

semoga bisa ngerti maksud saya.

Intinya, blog saya masih berantakan susunannya. Padahal rasanya ga sabar pengen cerita-cerita.

Continue reading

+50 jam perjalanan menuju kampung halaman

Masih di bulan syawal saya mengucapkan ” Taqabbalallaahu Minna Waminkum”, sudah lewat 2 minggu  setelah hari Raya Idulfitri, dan saya sudah kembali lagi bekerja di ibukota. Alhamdulillah akhirnya bisa mudik juga setelah sebelumnya saya khawatir tidak dapat cuti lebaran karena kan musti lihat dulu siapa-siapa yang mengajukan cuti, liburan panjang begini pasti banyak yang mau memanfaatkan. Sebenarnya, jika toh tak dapat cuti saya masih akan mudik, namun saya harus tetap usaha  cuti saya disetujui. Seperti tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah mendapatkan tiket kereta Api saat mudik lebaran, tiket sudah habis bahkan ludes beberapa menit sejak pemesanan dibuka.
Tentang tiket mudik lebaran, biasanya memang sudah dibuka sejak sebelum Ramadhan konon tiket sudah bisa dipesan sejak 30hari sebelum keberangkatan (tolong koreksi kalau salah), nah selama itu pengajuan cuti saya tentu saja belum ada jawaban. walhasil, karena mepet dengan perayan IdulFitri sejak beberapa tahun lalu saya kerap mudik dengan menumpang pesawat .
Hari Raya selalu ditunggu-tunggu, perburuan tiket membuat saya bersemangat, karena tidak mendapat tiket kereta api setiap hari saya memantau harga tiket pesawat yang masih diangka sama, harga turun untuk penerbangan pertama di pagi hari H lebaran, saya emoh nggak maulah, saya maunya bisa sholat Ied di kampung karena di momen ini biasanya saya bisa bertemu dengan tetangga dan teman masa kecil.
Ah ya soal mudik. Karena kesal dengan harga tiket pesawat yang kenapa bisa mahal gitu ya? padahal bedanya 100rb saja dibanding tahun lalu  saat saya mudik. Sepupu saya memberikan info “mudik bareng” ke kota kelahiran saya rombongan dengan bus, diadakan oleh semacam komunitas perantau dan para sponsor. Sejak dulu sudah kepikiran pengen mudik jalan darat lagi, pengen mastiin apakah perjalanannya akan sama seperti yang pernah saya alami beberapa tahun lalu yaitu 3hari 2malam?, toh lebaran tahun ini ada di hari rabu, jadwal mudik bareng di hari sabtu tanggal 2 Juli, kalau toh perjalannnya molor hingga 3 atau 4 hari inshaallah saya masih bisa ikut sholat Ied dikampung sedangkan dahulu tidak bisa.
Sebelum bergabung dengan rombongan “mudik bareng” saya sudah menghubungi beberapa agen bus untuk menanyakan harga tiket mudik lebaran, semua nomor telpon agen bus yang saya miliki tidak ada yang bisa tersambung. Saya galaunya, jika saya langsung menuju terminal bus, begitu tiba dilokasi saya akan dikerubuti calo-calo (seperti dahulu, tidak tahu seperti apa terminal bus sekarang), sehingga saya sulit menolak, tidak bisa memilih agen bus yang saya minati.
OK, saya putuskan untuk gabung ikut “mudik bareng” menumpang bus. Ibu saya berkali-kali menelpon saya untuk sebaiknya pulang dengan menumpang pesawat saja apalagi seminggu menjelang mudik saya terkena flu. Sepupu saya yang lain menghubungi, memberikan informasi tiket pesawat murah untuk penerbangan hari selasa tanggal 5juli, padahal sebenarnya bukan semata-mata itu. Saya sudah memutuskan ini kesempatan mudik dengan bus, saya akan melihat arak-arakan kendaraan keluar ibukota menuju kampung halaman masing-masing, dengan segala macam alat transportasi darat dan perbekalan yang mereka bawa, ada yang menumpang truk, pick-up yang sudah dimodivikasi dengan diberi penutup terpal penghalau matahari dan hujan, pesepeda motor, bajaj, bus jalur jakarta-bekasi, angkutan kota jakarta segala jenis merk mobil/ kendaraan pribadi. Saya akan merasakan seperti beberapa tahun lalu, perasaan haru ikut senang menjadi bagian pemudik, bisa pulang bertemu keluarga, kerabat, tetangga, teman dan sahabat.
Tanggal 2 Juli, saya menuju tempat yang ditentukan oleh pihak panitia. Barisan bus sudah rapi didepan kami 17 bus yang akan mengangkut kami menuju kota tujuan. Calon pmudik berkumpul sejak pukul 6 pagi, ada performance dari Dorce menghibur dengan lagu-lagu pop, dangdut hingga melayu, saat pendaftran ulang saya (kami) menerima bingkisan berupa snack dan beberapa minuman halal untuk perbekalan, didalamnya juga terdapat sarung dan amplop berisi uang, saya senyum-senyum lumayanlah ya dapat bingkisan. Sebelum berangkat kami juga diberi bekal nasi kotak menu padang untuk berbuka puasa, dan amplop yang berisi uang bisa digunakan untuk membeli menu makan sahur  esok harinya, begitu menurut panitia.
Menunggu diangkut bus untuk mudik, sambil melihat penampilan Dorce live mendedangkan lagu Pop, Dangdut dan melayu.
Bus yang saya tumpangi berangkat pukul 09.10pagi pada 2 Juli 16, arsk-arskan bus kami dikawal oleh mobil militer sampai tiba didekat arah tol (ga paham mobil apaan namanya) alhamdulillah perjalanan relatif lancar bahkan saat tiba di tol meskipun antrian panjang tapi tidak stuck. Tiba di Cirebon sudah menjelang maghrib, nasi kotak dan bekal yang diberikan oleh panitia milik saya yang saya letakkan dicabin bus diatas tempat duduk saya raib entah kemana, ya sudahlah tidak apa-apa toh saya sudah menyiapkan bekal saya sendiri, jumat  malam sebelum berangkat saya membeli beberapa butir apel dan minuman susu kotak dan mineral sengaja untuk bekal buka dan sahur selama perjalanan.

 

 
Di Cirebon, usai urusan saya ngobrol dengan Sang Maha Kuasa saya kembali ke bus, kami berangkat melanjutkan perjalanan yang kemacetannya  luar biasa. Meskipun crew bus dan koordinator rombongan memutuskan tidak menggunakan jalur tol brexit (sudah populer) karena melihat antrian masuk tol yang teramat panjang, kamipun berada di brebes semalaman, bus tak bergerak tanpa kami tahu apa yang terjadi. 
 
Hari minggu siang tgl 3Juli, bus yang saya tumpangi hanya melaju beberapa inch saja. Saya kira busnya bermasalah karena AC-nya tak berasa, menurut kawan saya suhu udara diluar yang panaslah yang membuat hawa bus juga tak terasa ber AC. 
Peenumpang bus tak tampak emosi, mereka memilih entah tidur beneran atau hanya memejamkan mata, beberapa berkaraoke lagu jawa, pantura, banyuwangi, lagu-lagu Nike Ardila hingga lagu dangdut lirik sangat dewasa namun dinyanyikan oleh bocah  11tahunpadahalkepalasayasudahnyutnyutan.
Lebih banyak yang “menghibur diri sendiri” daripada marah-marah, suara kokok ayam tak henti bersautan. Iya kokok ayam yang saya kira adalah jam weaker ternyata seorang penumpang rupanya membawa 2 ekor ayam yang diletakkan mungkin kardus atsu kurungan saya tak lihat tapi arah suaranya berasal dari bawah kursi jok penumpang.
Sama seperti saya, ibu dan Ning saya yang menghubungi berkali-kali menanyakan keadaan saya, keluarga mereka (penumpang bus) dikampung juga menghubungi menanyakan kabar mendoakan semoga semuanya sehat dan perjalanan lancar,  keluarga menunggu mereka tiba. Lebih banyak yang bersuka cita karena akan segera pulang bertemu saudara dan kerabat, beberapa penumpang tampaknya juga sudah lama tidak mudik ke kampung.
Di seberang lorong kursi saya adalah seorang ibu muda yang membawa 2 anak perempuannya, seorang anak usia 10th dan balita yang hanya rewel di hari sabtu karena masuk angin, hari minggu ketika lebih banyak penumpang dewasa kelelahan balita ini masih tampak ceria bercanda dengan si kakak, mereka senang ketika nenek atau bude mereka menghubungi mengabarkan akan dijemput. Saya ikut senang, bagian ini juga yang paling saya suka ketika mudik bertemu orang-orang baru melihat wajah bahagia akan segera bertemu sanak saudara betapapun lelahnya perjalanan.
Saya lupa pukul berapa bus bisa keluar dari Brebes, tiba di semarang hingga kendal perjalanan mulai lancar.  Dinihari pada senin 4Juli ketika saya terbangun kawan saya menyampaikan bahwa kami sudah masuk wilayah Tuban-Jawa Timur sungguh lega rasanya. Senin 4Juli pukul 5pagi bus yang saya tumpangi mulai masuk kota Malang, hanya senang dan senang  meskipum ternyata perjalanan mudik saya nyaris sama saja seperti beberapa tahun lalu, 3hari perjalanan.
Sejak awal saya memutuskan mudik dengan menumpang bus, meskipun sepupu saya beberapa kali memastikan saya jadi ikut bus atau tidak (karena saya cerita kondisi flu saya) saya bilang pada diri sendiri “apapun yang terjadi ngga boleh ngeluh dijalanan”.
Ibu dan keluarga saya lega saya tiba dirumah, dan bertemu paman saya dia menepuk bahu saya “sehat nduk? Alhamdulillah selamat, kamu tahu kejadian di brebes? Kabarnya 17orang meninggal”. Ternyata paman saya juga mengkhawatirkan saya dia paman terbaik yang saya punya, tapi saat itu saya belum tahu kejadian tol Brebes “Brexit”. Sudahlah, Alhamdulillah diberi nikmat merasakan Ramadhan bertemu sanak keluarga teman sahabat di hari Raya, InshaAllah diberikan kesempatan lagi tahun-tahun yang akan datang.